EmitenNews.com - Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia, Azharys Hardian, menilai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih ditopang sentimen domestik meski pasar global dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik dan tekanan di pasar obligasi Amerika Serikat (AS).

Menurutnya, perhatian pelaku pasar saat ini lebih banyak tertuju pada kondisi pasar obligasi AS yang mengalami outflow besar dalam sepekan terakhir. Dana investasi dan ETF obligasi investment grade di AS tercatat mengalami outflow sebesar USD7,1 miliar pada pekan yang berakhir 22 Juli 2026, setelah sebelumnya membukukan rekor outflow  harian sebesar USD8,2 miliar pada 20 Juli.

Tekanan tersebut dipicu oleh lonjakan harga minyak yang mendekati USD100 per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk serangan Houthi di Laut Merah dan konflik dengan Iran. Kondisi tersebut kembali memunculkan kekhawatiran inflasi sehingga mendorong imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik ke kisaran 4,70%, level tertinggi sejak Januari 2025.

"Lonjakan harga minyak yang mendekati USD 100 per barel akibat serangan Houthi di Laut Merah dan ketegangan militer dengan Iran memunculkan kembali skenario inflasi yang sempat mereda, mendorong Treasury yields melonjak ke level tertinggi sejak Januari 2025," ujar Azharys dalam risetnya, Senin (27/7).

Di sisi lain, indeks dolar AS sempat menyentuh level tertinggi dalam satu bulan di kisaran 101,5 sebelum kembali terkoreksi seiring meredanya harga energi. Meski demikian, tekanan inflasi dari kenaikan harga minyak dinilai masih berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter The Federal Reserve.

Sementara itu, dari dalam negeri, IHSG terkoreksi 1,8% pada perdagangan Jumat. Namun secara mingguan indeks masih membukukan penguatan tipis sebesar 0,34%, mencerminkan pasar yang masih berada dalam fase tarik-menarik antara sentimen global dan perbaikan faktor domestik.

Azharys menilai keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 21–22 Juli 2026 menjadi katalis positif bagi pasar saham. Selain menahan suku bunga, BI juga meluncurkan sejumlah insentif, termasuk penurunan biaya lindung nilai (hedging) valuta asing dan perluasan insentif bagi investor portofolio asing.

"Keputusan ini secara eksplisit menjadi katalis positif IHSG sempat melompat 1,2% ke 6.405 pada Kamis, menyentuh level tertinggi dalam lima minggu dan membuka potensi masuk ke bull market dari titik terendah awal Juni sebuah respons yang mengkonfirmasi bahwa pasar ekuitas domestik saat ini lebih sensitif terhadap sinyal kebijakan BI dibanding tekanan eksternal jangka pendek," katanya.

Ia juga mencatat mulai pulihnya likuiditas perdagangan dengan rata-rata nilai transaksi harian 20 hari yang kembali berada di atas Rp12 triliun sebagai indikasi meningkatnya minat investor setelah periode tekanan yang cukup panjang.

Ke depan, Azharys menilai kombinasi BI hold dan paket insentif valas ini membuka ruang untuk penguatan IHSG tipis ke kisaran 6.250 dalam waktu dekat, dengan asumsi tidak ada eskalasi baru dari front geopolitik Timur Tengah yang dapat kembali mendorong oil price dan Treasury yields lebih tinggi.