EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup melemah 0,37 persen menjadi 7.362. Setelah sempat bergerak fluktuatif, akhirnya indeks ditutup di teritori negatif. Sentimen negatif antara lain dari konflik Amerika Serikat (AS)-Israel vs Iran memantik harga minyak mentah kembali meroket.

Sektor cyclical mencatat koreksi terbesar, dan sektor transportasi membukukan penguatan terbesar. Lonjakan harga minyak mentah mempertebal kecemasan akan potensi inflasi, defisit APBN melebar, dan potensi defisit neraca perdagangan migas. Mayoritas indeks bursa Asia ditutup melemah.

Rupiah mengalami koreksi menjadi Rp16.885 per dolar AS (USD). Serangan terhadap beberapa kapal tanker di Timur Tengah telah mendorong kenaikan harga minyak mentah. Serangan tersejadi setelah IEA mengumumkan pelepasan cadangan minyak mentah skala terbesar dalam sejarah.

Tidak ada tanda-tanda de-eskalasi di Teluk Persia membuat harga minyak mentah tetap diperdagangkan di harga tinggi, karena belum terlihat tanda akan berakhir gangguan aliran minyak di Selat Hormuz. Keputusan IEA juga memberi sinyal tingginya risiko gangguan suplai minyak, dan menunjukkan IEA tidak percaya perang ini akan segera berakhir.

Ketidakpastian kapan perang akan berakhir, makin meningkatkan risiko akan dampak terhadap kenaikan inflasi, dan perlambatan ekonomi global. Secara teknikal, diperkirakan indeks bergerak sideways cenderung melemah. Indeks diperkirakan menguji level support 7.200, dan posisi resistance 7.400.

Berdasar data dan fakta tersebut, Phintraco Sekuritas menyarankan kepada para pelaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham unggulan berikut. Yaitu, Bank BCA (BBCA), Indofood CBP (ICBP), Indosat Ooredoo (ISAT), Adaro Andalan Indonesia (AADI), dan Essa Industries (ESSA). (*)