EmitenNews.com - PT XL Smart Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL) mencatatkan perbaikan kinerja di semester I 2026 pascamerger. Perseroan mengklaim berhasil membukukan sinergi kotor USD153 juta dan memangkas rugi bersih, meski secara pembukuan masih merugi.

Berdasarkan laporan keuangan dan earnings call Rabu 12/8/2026, pendapatan EXCL tumbuh 26% YoY menjadi Rp24,03 triliun. Normalized EBITDA naik 19% YoY ke Rp11,05 triliun dengan margin 46%. Normalized PAT (laba ternormalisasi) juga melonjak 294% YoY menjadi Rp2,73 triliun.

Namun, jika mengacu pada laba rugi konsolidasian, EXCL masih membukukan rugi bersih Rp994 miliar di 1H 2026. Meski lebih baik dari rugi Rp1,2 triliun pada 1H 2025, perseroan belum sepenuhnya lepas dari beban pascamerger seperti biaya integrasi, percepatan depresiasi, dan impairment aset.

Realisasi sinergi merger EXCL tercatat sebesar USD153 juta sepanjang semester I 2026. Angka ini naik 3 kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar USD48 juta.

Hal tersebut didorong oleh penghematan dari sisi komersial melalui negosiasi ulang dengan mitra dan kontrak, optimalisasi jaringan termasuk operasional site, utilitas, dan fiber, serta penghematan biaya regulasi dari proses deregistrasi 15 ribu site yang telah dinonaktifkan.  

Presiden Direktur & CEO EXCL, Rajeev Sethi dalam keterangan tertulisnya dikutip Kamis (13/8/2026) mengatakan perseroan kini memasuki fase optimalisasi setelah 92% site rampung diintegrasikan. Sebanyak 15 ribu site duplikasi juga telah dibongkar untuk menekan biaya.

"Skala jaringan yang lebih besar dan portofolio spektrum yang luas mulai terealisasi menjadi sinergi. Fokus kami ke depan memastikan hasil merger diterjemahkan ke kualitas jaringan dan layanan 5G," ujar Rajeev.

Tantangan di Depan: Capex & Utang

Di sisi lain, EXCL justru menaikkan belanja modal. Capex 1H 2026 tercatat Rp10,27 triliun dan target 2026 direvisi naik dari Rp15 triliun menjadi Rp20 triliun untuk mengejar integrasi dan ekspansi 5G.

Total utang kotor EXCL per Juni 2026 masih di level Rp20,87 triliun dengan rasio Net Debt to EBITDA 2,61x. Sebanyak 90% pinjaman masih berbunga mengambang, sehingga rentan terhadap kenaikan suku bunga.