SWAP UGM Beber Risiko dan Proyeksi Usaha Ke Depan, Bagaimana?
:
0
Perusahaan riset kesehatan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), yakni PT Swayasa Prakarsa tengah membidik dana segar hingga Rp45,22 miliar lewat rencana Initial Public Offering (IPO) di Bursa efek Indonesia (BEI). Foto: UGM
EmitenNews.com - Perusahaan riset kesehatan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), yakni PT Swayasa Prakarsa tengah membidik dana segar hingga Rp45,22 miliar lewat rencana Initial Public Offering (IPO) di Bursa efek Indonesia (BEI).
Dalam prospektusnya, perusahaan yang menetapkan kode ticker SWAP itu berencana listing perdana di BEI pada 10 September 2026 mendatang. Karena itu, sejak tanggal 24 Agustus, SWAP telah memasuki masa bookbuilding hingga tanggal 27 Agustus. Harga yang ditawarkan berada di rentang Rp130-Rp140 per sahamnya.
Dari kiprahnya, SWAP telah berdiri sejak tahun 2012 dengan fokus bisnis usaha di bidang manufaktur dalam mendukung hilirisasi dan komersialisasi hasil riset serta invoasi untuk ditransformasikan menjadi produk industri. Tiga pilar strategis menjadi fokus operasional SWAP, yaitu manufaktur alat kesehatan, manufaktur produk bahan alam, dan manufaktur pangan.
Kendati begitu, SWAP juga membeberkan sejumlah risiko yang bisa saja terjadi, baik dari sisi distribusi hingga risiko usaha lainnya.
“Risiko usaha dan umum yang dihadapi perseroan di bawah ini disusun berdasarkan bobot dari dampak masing-masing risiko terhadap kinerja usaha perseroan,” sebagaimana tertulis di prospektus, dikutip Selasa (25/8).
Lebih lanjut, risiko utama yang berpengaruh siginifikan terhadap kelangsungan kegiatas usaha yakni risiko distribusi dan pemasaran. Hal ini dikarenakan produk perseroan adalah produk hasil penelitian yan membutuhkan edukasi dan penetrasi pasar. Dengan karakter produk yang seperti itu, membuat tingkat penerimaan pasar sangat bergantung pada edukasi dan promosi, serta membangun pemahaman yang memadai kepada konsumen, tenga kesehatan, hingga distributor.
Lalu ada risiko usaha, yang meliputi risiko gangguan dan keterlambatan pemenuhan bahan baku, risiko tingkat kolektibilitas dan piutang usaha tidak tertagih, risiko persediaan yang tidak dapat dipulihkan, risiko kehilangan personil utama dan ketersediaan SDM kompeten, risiko ketergantungan ke beberapa pelanggan, perubahan peraturan dan kebijakan pemerintah, fluktuasi nilai tukar mata uang, hingga risiko investasi atau aksi korporasi.
Berikutnya dari sisi risiko umum seperti risiko kondisi politik Indonesia, hingga risiko tuntutan atau gugatan hukum. Sementara risiko terkait investasi pada saham perseroan, SWAP menuturkan risiko seperti tidak likuidnya saham yang ditawarkan pada penawaran umum perdana saham, risiko fluktuasi harga saham, hingga risiko terkait kebijakan dividen.
Baca Juga: Mau IPO, Intip Kinerja SWAP dan Alokasi Dananya Untuk Apa
Optimisme Prospek Usaha
Related News
Intip Kinerja Elnusa (ELSA) di Semester I 2026, Positif?
Akuisisi, Emiten Raffi-Nagita (VISI) Private Placement 307 Juta Helai
Ini Lini Bisnis Perusahaan IT yang Dilepas EMTK dan Dibeli Yuslinda
KPR Atraktif, BTN Labeli TOD Manggarai Bunga 6 Persen hingga Lunas
BEEF Jelaskan Lonjakan Harga Sahamnya Hingga Disuspensi BEI
Emtek (EMTK) Lepas Saham, Kendali atas ACA Kini di Yuslinda Nasution





