EmitenNews.com - Tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berkurang setelah Bank Sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed) tidak menaikkan suku bunga acuannya. Rapat dewan gubernur The Fed yang berlangsung Kamis (29/10/2026) dinihari WIB mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75% hingga 4%.

Dalam pernyataan resmi The Fed.Federal seperti diberitakan Anadolu, Kamis (29/10.2026), Open Market Committee (FOMC) memutuskan suku bunga acuan tetap dengan keputusan perolehan suara 10 banding 2, sebagai langkah untuk mendukung mandat ganda bank sentral, yaitu mencapai tingkat penyerapan tenaga kerja maksimal dan menjaga stabilitas harga,

Dua pengambil kebijakan, Lisa Cook dan Beth Hammack, menyatakan keberatan (dissent) karena lebih memilih untuk menaikkan kisaran target suku bunga acuan (federal funds rate) sebesar 25 basis poin dalam pertemuan tersebut.

"Inflasi masih berada di tingkat yang tinggi," ungkap komite tersebut, seraya menegaskan komitmennya untuk mewujudkan stabilitas harga.

"Pengumpulan informasi lebih lanjut akan membantu Komite dalam menentukan kebijakan yang tepat guna memastikan inflasi kembali ke target 2 persen yang ditetapkan oleh Komite," tambahnya.

Bank sentral mencatat bahwa aktivitas ekonomi AS terus berkembang dengan laju yang kuat, didukung oleh pengeluaran domestik yang tangguh, pertumbuhan produktivitas yang tinggi, serta investasi modal yang solid—meskipun terdapat ketidakpastian yang cukup tinggi, yang sebagian dipicu oleh perkembangan geopolitik.

The Fed menyatakan bahwa penambahan lapangan kerja terus sejalan dengan pertumbuhan angkatan kerja, sementara tingkat pengangguran relatif stabil.

Selain itu, The Fed menegaskan akan tetap melanjutkan kebijakan untuk menjaga ketersediaan cadangan yang memadai dalam sistem perbankan.