Telisik! Ini Tiga Strategi Buy the Dip Aset Kripto
:
0
Ilustrasi fluktuasi aset kripto dan saham. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Pasar crypto telah mengalami tren kenaikan, dan penurunan sepanjang 2025. Kombinasi kondisi makroekonomi buruk dan perang tarif Trump membuat pasar crypto terpuruk. Di sisi lain, berita-berita seperti penurunan suku bunga, dan regulasi aset crypto juga menjadi pelontar kenaikan harga pasar.
Salah satu strategi paling banyak digunakan oleh trader, dan investor yaitu strategi buy the dip. Lalu, apa itu strategi buy the dip, dan memberikan tiga strategi yang bisa diterapkan oleh investor kripto!
Apa itu Strategi Buy The Dip? Buy the dip adalah strategi investasi yang umum digunakan di pasar crypto, dan saham. Strategi ini merujuk pada metode sederhana membeli ketika harga turun dengan ekspektasi harga akan pulih. Di pasar crypto, strategi ini sangat populer di kalangan investor pemula karena sederhana, dan mudah dilakukan.
Strategi yang baik adalah membeli koreksi harga dalam tren naik kuat, dan meraih keuntungan sebelum tren tersebut berbalik. Contoh di bawah ini menunjukkan betapa menguntungkannya melakukan buy the dip pada aset SOL sepanjang 2024. Itu merupakan contoh baik tentang cara membeli dip di pasar bullish.
Tiga pola grafik dan strategi untuk membeli dip. Pertama rounding bottom. Rounding bottom adalah pola grafik yang sering terbentuk saat tren bearish akan selesai. Pola in ditemukan di akhir tren penurunanpanjang, dan menandakan pembalikan harga. Secara visual, pola ini berbentuk “U”. Pola ini juga disebut dengan rounding bottom karena kesederhanaan pergerakan harga (higher low yang diikuti oleh higher high).
Dalam pola rounding bottom, pemulihan aset terjadi secara lambat dan stabil. Harga sering berfluktuasi di dekat level terendah, secara perlahan membentuk higher low sambil mendekati resistance sebelumnya. Selain itu, perhatikan pola lain yang sering terjadi dalam rounding bottom, seperti double bottom.
Kedua, membeli pada fase akumulasi Wyckoff. Menurut teori Richard Wyckoff, fase akumulasi adalah fase setelah suatu aset mengalami tren turun berkepanjangan, dan akhirnya harga stabil. Dalam fase akumulasi, harga menetap dalam suatu jarak harga (bergerak sideways). Namun, Wyckoff berpendapat trader “smart money” akan mengakumulasi aset selama fase ini.
Pada fase fase akumulasi Wyckoff, dapat terlihat pola seperti rounding bottom, triple bottom, V-reversal, double bottom, atau bahkan cup and handle. Aspek penting dari tahap akumulasi adalah volume stabil dan/atau mulai meningkat kembali. Trading dalam fase akumulasi Wyckoff menggunakan strategi buy the dip serupa dengan pola rounding bottom.
Terbentuknya higher low pada grafik merupakan potensi sinyal beli, sementara stop loss harus ditetapkan pada support sebelumnya atau pada titik rendah lokal (untuk mengantisipasi potensi penurunan lebih lanjut).
Ketiga melakukan buy the dip dalam tren kenaikan. Menerapkan strategi buy the dip dalam tren kenaikan kuat adalah skenario ideal. Dalam tren ini, penurunan harga biasanya bersifat sementara, dan harga akhirnya kembali melanjutkan tren. Seperti terlihat di atas, membeli koreksi besar di bawah USD2 pada SUI akan memberikan profit lebih dari 150 persen (jika dijual sekitar USD5).
Related News
Telisik! BREN, TPIA, CUAN hingga DSSA Dominasi Top Losers Pekan Ini
Pelototi, Ini 10 Saham Top Gainers dalam Sepekan
Pekan Kelabu, IHSG Anjlok 3,53 Persen, Asing Kabur Rp40,82 Triliun
Masyarakat ASEAN Target Empuk Scam Online, Google Turunkan Bantuan
Pertemuan Tump - Xi Jinping Angkat Kembali Dow Jones di Atas 50.000
Pemerintah Siapkan Support, Zarubezhneft Setuju Lanjutkan Blok Tuna





