EmitenNews.com - Penerapan batas bawah harga saham Rp1 telah berjalan lebih dari satu bulan. Kebijakan harga terendah tersebut telah berlaku efektif sejak 28 September 2026 lalu. Sejak saat itu, pengaplikasian era Rp1 tersebut rupanya kurang bersahabat dengan emiten di bawah naungan MNC Group.

Setidaknya, enam dari sembilan emiten asuhan Hary Tanoesoedibjo tersebut makin jauh meninggalkan level Rp50. Lalu, tiga emiten sisanya terus merosot dan tidak menutup kemungkinan mendekati level Rp50. Enam emiten terjun bebas makin jauh dari posisi Rp50 sebagai berikut.

Yaitu, Indovision (MSKY) bertengger di level Rp29, susut 24 poin alias 45 persen dari periode 28 September 2026 di kisaran Rp53. MNC Tourism Indonesia (KPIG) bercokol di posisi Rp25, anjlok 50 persen dari Rp50. Bank MNC Internasional (BABP) Rp20, drop 60 persen dari Rp50. MNC Financial (BCAP) Rp19, melorot 62 persen dari Rp50.

MNC Vision Networks (IPTV) berakhir di kisaran Rp17, merosot 29 persen dari Rp24, dan MNC Asia Holding (BHIT) Rp15, menukik 28,57 persen dari Rp21. Selanjutnya, tiga emiten terus turun yaitu MNC Digital (MSIN) Rp104, ambles 48 persen dari Rp200. Media Nusantara (MNCN) Rp75, susut 44,85 persen dari Rp136, dan Global Media (BMTR) Rp53, terkoreksi 38,37 persen dari Rp86.

Lalu, bagaimana dengan performa keuangan Grup MNC hingga 30 September 2026. Mayoritas yaitu lima emiten mencatat penurunan laba bersih, dua emiten mentabulasi laba bersih melonjak, dan dua emiten mengemas rugi bersih secara beruntun alias back to back. Berikut rapor kinerja emiten Hary Tanoe hingga kuartal III 2026.  

MNC Sky Vision alias Indovision (MSKY)

Pendapatan Rp166,83 miliar, drop dari Rp302,1 miliar

Rugi bersih Rp113,68 miliar, turun dari Rp196 miliar

Ekuitas Rp665,72 miliar, turun dari Rp779,4 miliar

Defisit Rp3,46 triliun, naik dari Rp3,34 triliun