EmitenNews.com - Kinerja PT Bank Seabank Indonesia (SeaBank) menggembirakan. SeaBank mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 79 persen (year on year/yoy) menjadi Rp678,4 miliar sepanjang 2025. Terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya yang Rp378,8 miliar.

Dalam keterangannya yang dikutip Minggu (5/4/2026), Direktur Utama SeaBank Indonesia Sasmaya Tuhuleley menyampaikan bahwa performa positif sepanjang 2025 mencerminkan efektivitas strategi bisnis perseroan.

Nantinya, ke depan, SeaBank Indonesia akan terus menjaga momentum ini dengan fokus pada inovasi layanan digital yang relevan, dan berorientasi pada kebutuhan nasabah.

Pencapaian tinggi perseroan itu, melanjutkan tren profitabilitas dalam beberapa tahun terakhir. Sebelumnya pada 2023, laba tercatat sebesar Rp241,4 miliar dan pada 2022 meningkat Rp269,2 miliar.

Untuk sisi penghimpunan dana, SeaBank mencatat dana pihak ketiga (DPK) mencapai sebesar Rp34,8 triliun per akhir 2025.

Perseroan juga mencatatkan pertumbuhan signifikan dalam jumlah nasabah. Per Desember 2025, SeaBank memiliki lebih dari 28 juta nasabah.

Rata-rata transaksi harian berjumlah lebih dari 12 juta transaksi dengan perputaran uang rata-rata mencapai lebih dari Rp5 triliun per hari pada Desember 2025.

Jumlah nasabah yang terus menunjukkan pertumbuhan positif membuat SeaBank semakin termotivasi untuk menghadirkan produk dan layanan yang terbaik bagi nasabah.

“Kami melihat pertumbuhan ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan bank digital SeaBank sebagai solusi keuangan sehari-hari,” kata Sasmaya Tuhuleley.

Perseroan akan terus menjaga kepercayaan ini melalui inovasi layanan serta peningkatan kualitas pengalaman nasabah. Untuk semakin mempermudah dan memperluas aktivitas finansial dari nasabah, SeaBank berencana meluncurkan fasilitas kartu debit tahun ini.

Kemudian, total kredit mencapai Rp32,1 triliun dengan rasio non-performing loan (NPL) yang terkendali berada pada level 1,82 persen.

Hingga akhir 2025, total aset SeaBank mencapai Rp44,4 triliun atau tumbuh 28,5 persen secara tahunan (yoy).

Sementara itu, dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal (CAR) berada pada level 23,3 persen. Angka ini, catat perseroan, menunjukkan kapasitas permodalan yang memadai dalam mendukung pertumbuhan ke depan. ***