EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin ditutup menguat tipis 0,04 persen menjadi 6.041. Rupiah juga ditutup menguat 0,13 persen ke posisi Rp18.091 per dolar Amerika Serikat (USD), merupakan kenaikan terbesar dibanding mata uang Asia lainnya. Secara teknikal, IHSG masih bertahan di atas level MA20, namun Stochastic RSI sudah berada di area overbought.

Oleh sebab itu, IHSG diprediksi masih berkonsolidasi. Sepanjang perdagangan hari ini, Kamis, 16 Juli 2026, IHSG akan menyusuri kisaran support 6.000, dan posisi resistance 6.125. Berdasar laporan Bank Indonesia (BI), posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia tercatat sebesar USD444,4 miliar atau naik 2,1 persen YoY.

Kenaikan itu, dipengaruhi pertumbuhan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah kontraksi pertumbuhan ULN swasta lebih rendah. Posisi ULN pemerintah pada Mei 2026 sebesar USD217,3 miliar atau tumbuh 3,7 persen YoY. Sedangkan posisi ULN swasta tercatat USD195,9 miliar atau turun 0,1 persen YoY.

Pemerintah memastikan tidak akan menaikkan tarif pajak sebagai strategi meningkatkan penerimaan negara pada 2026. Namun, saat bersamaan, pemerintah mulai menaikkan tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di sejumlah kementerian dan lembaga (K/L). Itu terjadi seiring proyeksi penerimaan pajak ditaksir tidak mencapai target APBN 2026.

Pemerintah merevisi naik outlook PNBP menjadi Rp575,1 triliun atau setara 125,2 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp459,2 triliun. Nilai tersebut juga diperkirakan tumbuh 6,2 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya. Menilik data itu, Phintraco Sekuritas menyodorkan sejumlah saham berikut.

Bank Neo Commerce (BBYB), Map Aktif Adiperkasa (MAPA), Central Omega Resources (DKFT), London Sumatera Plantations alias Lonsum (LSIP), dan HM Sampoerna (HMSP). (*)