EmitenNews.com - MSCI membuang Goto Group (GOTO) dari barisan MSCI Global Standard Index. MSCI menghapus GOTO dengan menggunakan harga sistem terendah (0,00001 dari mata uang harga sekuritas tersebut.

MSCI menyebut perlakuan terhadap GOTO sehubungan dengan adanya potensi masalah dalam replikasi indeks atau index replicability. Problem itu menyusul likuiditas saham GOTO relatif rendah. Maklum, saham GOTO ditransaksi dengan harga mininum Rp50 di Bursa Efek Indonesia sejak 13 Mei 2026.

Sepanjang paruh pertama 2026, GOTO meraup laba bersih Rp607,49 miliar, meroket 204,73 persen dari edisi sama tahun lalu boncos Rp580,01 miliar. Itu ditopang pendapatan Rp10,99 triliun, melejit 28,4persen dari Rp8,55 triliun. Aset Rp47,47 triliun, naik dari Rp45,75 triliun.

Saat ini, saham GOTO stagnan Rp50. Sejak awal tahun menukik 27,54 persen atau 19 poin dari 2 Januari 2026 sebesar Rp69. Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) berdalih saham GOTO belum dikeluarkan dari indeks IDX30, LQ45, dan IDX80.

Padahal, harga saham GOTO seperti non-aktif alias mentok di Rp50 sejak penutupan perdagangan 4 Mei 2026. Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI Irvan Susandy kala ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (28/7/2026) menjelaskan, penilaian untuk masuk atau keluar dari indeks tidak memakai data likuiditas 1-2 bulan saja. "Liquidity-nya kayaknya enggak dihitung cuma sebulan-dua bulan. Kayaknya average (rata-rata) 6 atau 12 bulan terakhir sebelum evaluasi," terang Irvan.

BEI menghitung berdasarkan rata-rata likuiditas selama 6 bulan sampai 12 bulan terakhir sebelum evaluasi. Irvan menyebut tekanan pada transaksi GOTO memang baru terasa dalam beberapa bulan terakhir. Namun sebelumnya, aktivitas perdagangan GOTO tergolong tinggi dan aktif. Dari situlah GOTO masih lolos syarat kuantitatif untuk bertahan di tiga indeks tersebut.

"Kita tidak melakukan perubahan di perhitungan kuantitatif indeks konstituen. Jadi kalau dia (GOTO) masih ada, berarti mungkin di bulan-bulan sebelumnya memang liquidity-nya masih kencang," ujar Irvan.

Sebagai informasi, saham GOTO terpantau betah mejeng di level Rp50 sejak pertama kalinya pada penutupan perdagangan (4/5/2026) hingga penutupan perdagangan Rabu (28/7/2026).

Analogi sistem perhitungan ini, kata Irvan, sama seperti cara BEI menghitung Rata-Rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) di sepanjang tahun berjalan. Data menunjukkan RNTH tahunan BEI masih di kisaran Rp22 triliun. Angka itu masih relatif tinggi meskipun belakangan transaksi harian sudah melandai di bawah Rp30 triliun.

Tingginya rata-rata itu ditopang oleh lonjakan transaksi pada masa-masa awal tahun yang sempat menyentuh Rp34 triliun. Dengan pola sama, likuiditas GOTO pada periode sebelum melemah masih cukup kuat. Kondisi itu membuat GOTO tetap memenuhi kriteria sebagai konstituen IDX30, LQ45, dan IDX80 hingga evaluasi berikutnya. (*)