USTR Sinyalkan Tarif Impor Baru Sasar Negara Asia, RI Perlu Waspada
:
0
Perwakilan Perdagangan Amerika Serikat (USTR), Jamieson Greer. (Foto: Maeil Business)
EmitenNews.com - Perwakilan Perdagangan Amerika Serikat (USTR), Jamieson Greer, mengisyaratkan potensi pengenaan tarif impor tambahan yang menyasar negara-negara di Asia, seperti Tiongkok, Vietnam, dan Korea Selatan. Pernyataan tersebut disampaikan Greer dalam wawancara dengan Fox News pada tanggal 27 waktu setempat, sebagaimana dikutip dari Maeil Business Newspaper.
USTR saat ini tengah menyelesaikan penyelidikan terkait dugaan kelebihan kapasitas produksi dan praktik dumping manufaktur dari negara-negara mitra dagang utama tersebut. Kami akan menyelesaikan penyelidikan dan segera mengajukan proposal, yang dapat menyebabkan tarif tambahan, ujar Greer.
Ia juga menegaskan bahwa skema tarif berdasarkan Pasal 301 Undang-Undang Perdagangan Amerika Serikat tidak akan memicu inflasi di dalam negeri. Menurutnya, kebijakan bea masuk spesifik ini juga tidak akan memengaruhi kebijakan suku bunga acuan Central Bank Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).
Hal itu tidak akan berdampak sama sekali, kata Greer saat ditanya mengenai opsi pembekuan suku bunga oleh The Fed.
Pernyataan ini mengemuka menjelang rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada tanggal 28 hingga 29 untuk menentukan suku bunga. Pelaku pasar umumnya memprediksi suku bunga akan dibekukan. Namun, sebagian analis memperkirakan potensi kenaikan suku bunga akibat lonjakan harga minyak pascakonflik bersenjata Amerika Serikat dan Iran.
Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat telah menetapkan tarif 10 hingga 12,5 persen bagi 60 negara pada tanggal 23 atas tuduhan impor barang bersumber kerja paksa. Data USTR mencatat cakupan negara tersebut menyumbang 99,4 persen dari total impor Amerika Serikat, dengan Korea Selatan terkena tarif efektif 12,5 persen.
Ancaman tarif baru terhadap rantai pasok Asia ini menjadi sinyal kewaspadaan bagi Indonesia. Pembatasan akses pasar pada negara tetangga seperti Vietnam dan Tiongkok berpotensi meretai arus perdagangan regional serta memicu pergeseran dinamika ekspor manufaktur Indonesia ke pasar Amerika Utara.(*)
Related News
Jaga Rupiah, BI Pangkas Biaya Hedging
Indeks Dolar Stabil di 101,5 Jelang Keputusan Suku Bunga Fed
Sinyal Damai AS-Iran Tahan Lonjakan Harga Emas Dunia
Konflik Reda, Harga Minyak Mentah Anjlok Tiga Hari Berturut
Nikkei Anjlok 3,7 Persen, Efek Domino Saham Chip AS
Bursa AS dan Eropa Ditutup Naik Efek Harga Minyak





