Valuasi Saham Menarik, Danantara Siap Gelontor Investasi Gede
:
0
Petugas kebersihan tengah menyisir area teras Bursa Effekt Indonesia. Foto - Dok Emitennews
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pekan lalu menguat 0,94 persen atau 56,87 poin menjadi 6.093 dari pekan sebelumnya 6.036. Kapitalisasi pasar melejit 0,69 persen menjadi Rp10.701 triliun dari Rp10.627 triliun. Investor asing mencatat net foreign sell sekitar Rp2,44 triliun.
Saham paling banyak dibeli asing Ultrajaya (ULTJ) Rp111,5 miliar, Medco (MEDC) Rp48,5 miliar, dan Merdeka Gold (EMAS) Rp42,1 miliar. Saham paling banyak dilepas asing Goto Group (GOTO) Rp663,2 miliar, Bank BCA (BBCA) Rp293,5 miliar, dan Bank Mandiri (BMRI) Rp235,6 miliar. Rata-rata volume transaksi harian turun 7,62 persen menjadi 46,53 miliar lembar, dan frekuensi transaksi susut 0,27 persen menjadi 1,67 juta kali.
Sebaliknya, rata-rata nilai transaksi harian melonjak 28,52 persen menjadi Rp16,23 triliun. Pada perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026, IHSG ditutup menguat 1,04 persen menjadi 6.093 usais menyentuh level terendah 5.995. Ada sejumlah sentimen dari global dan domestik memengaruhi pergerakan saham dalam sepekan terakhir.
Wall Street sempat bergerak bervariasi seiring tekanan pada saham teknologi akibat kekhawatiran terhadap prospek pendapatan OpenAI, dan kenaikan yield US Treasury meningkatkan tekanan terhadap valuasi saham. "Pergerakan pasar global sepanjang pekan diwarnai volatilitas saham teknologi, tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat, dan risiko geopolitik," tegas Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Brigita Kinari.
Pasar obligasi, yield US Treasury 10Y tetap tinggi, meski sempat terkoreksi setelah lelang obligasi AS mendapat respons permintaan kuat. ”Sentimen membaik pada Jumat (9/10), ketika Dow Jones naik 0,83 persen, S&P 500 menguat 0,59 persen, dan Nasdaq surplus 0,64 persen, didukung pemulihan saham teknologi dan meredanya tekanan pasar obligasi,” imbuhnya.
Nah, dari sisi komoditas, harga minyak bergerak volatil akibat perubahan ekspektasi pasokan, dan lonjakan risiko geopolitik. WTI sempat turun ke USD88,28 per barel pada Rabu (7/10) sebelum kembali naik tajam 3,64 persen menjadi USD91.49 per barel pada Kamis. Penguatan dipicu peningkatan risiko gangguan pasokan akibat serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, kekhawatiran terhadap potensi tindakan militer AS terhadap Iran, dan ancaman Badai Isaias terhadap produksi minyak di Teluk Meksiko.
"Pada Jumat (9/10) WTI kembali naik tipis 0,19 persen menjadi US91,66 per barel seiring gangguan produksi akibat badai mengimbangi tekanan dari perkembangan diplomatik AS - Iran. Di sisi lain, emas menguat 1,47 persen ke USD4.193,9 per troy ounce pada 9 Oktober, didukung pelemahan dolar AS, dan permintaan aset lindung nilai di tengah ketidakpastian pasar,” urainya.
Sementara itu, harga batu bara Newcastle terkoreksi ke USD148,85 per ton pada penutupan 9 Oktober setelah sempat menyentuh USD152 per ton, level tertinggi dalam 23 bulan. Permintaan listrik India dan China serta keterbatasan pasokan domestik China menjadi faktor pendukung harga, meskipun pemulihan produksi China berpotensi membatasi kenaikan lebih lanjut.
Dari sisi domestik, risiko eksternal masih menjadi perhatian seiring proyeksi pelebaran defisit transaksi berjalan alias current account deficit (CAD) Indonesia menjadi 1,5 persen PDB pada 2026 akibat meningkatnya impor energi. Kombinasi kebutuhan impor energi dan tingginya yield obligasi AS berpotensi meningkatkan sensitivitas rupiah serta arus dana asing terhadap perubahan sentimen global.
Di dalam negeri, Indeks Keyakinan Konsumen September 2026 tercatat 118,1, dan masih berada di zona optimistis. Namun, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini melemah dari 109,4 menjadi 107,5, mengindikasikan persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini mengalami moderasi. "Perkembangan tersebut perlu dicermati bersama pergerakan arus dana asing dan volatilitas IHSG, tanpa mengasumsikan adanya hubungan sebab-akibat langsung," terangnya.
Related News
IHSG Positif, Bungkus Saham-saham ini
Waspadai Perluasan HSC, IHSG Susuri Level 6.000
TLDN dan ASII Kompak Masuk Cum Date Dividen, Intip Tanggal Cairnya!
Revisi UU LLAJ Bakal Atur Ojol dan Kurir Aplikasi
Pasca Rebound, Ini Level Krusial IHSG Saat Ini
IHSG Berpeluang Konsolidasi, Analis Cermati Level 6.000





