IDXINDUST

 -0.03%

IDXINFRA

 -0.22%

IDXCYCLIC

 -0.21%

MNC36

 0.16%

IDXSMC-LIQ

 0.23%

IDXHEALTH

 -0.32%

IDXTRANS

 0.16%

IDXENERGY

 -0.60%

IDXMESBUMN

 0.47%

IDXQ30

 0.26%

IDXFINANCE

 0.35%

I-GRADE

 0.36%

INFOBANK15

 0.61%

COMPOSITE

 0.13%

IDXTECHNO

 -0.39%

IDXV30

 -0.21%

ESGQKEHATI

 0.38%

IDXNONCYC

 0.49%

Investor33

 0.26%

IDXSMC-COM

 0.10%

IDXBASIC

 0.01%

IDXESGL

 0.21%

DBX

 -0.32%

IDX30

 0.20%

IDXG30

 0.23%

ESGSKEHATI

 0.29%

IDXSHAGROW

 -0.48%

KOMPAS100

 0.14%

PEFINDO25

 0.05%

BISNIS-27

 0.29%

ISSI

 -0.22%

MBX

 0.18%

IDXPROPERT

 -0.19%

LQ45

 0.19%

IDXBUMN20

 0.55%

IDXHIDIV20

 0.27%

JII

 -0.39%

IDX80

 0.13%

JII70

 -0.31%

SRI-KEHATI

 0.43%

IDXLQ45LCL

 0.11%

SMinfra18

 0.45%

KB Bukopin
Sawit Sumbermas Sarana

Waduh! DPD RI Tegaskan Penjualan Aset BBCA Oleh BPPN ke Pembeli Baru Tak Wajar

12/10/2022, 06:15 WIB

Waduh! DPD RI Tegaskan Penjualan Aset BBCA Oleh BPPN ke Pembeli Baru Tak Wajar

EmitenNews.com—Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI telah menemukan beban APBN pada tahun ini yang berupa pembayaran bunga obligasi rekap BLBI senilai Rp47,78 triliun per September 2022.


Ketua DPD RI, AA Lanyalla Mahmud Mattalitti menegaskan, Pansus BLBI DPD RI telah meminta Pemerintah c.q Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan untuk menampilkan informasi mengenai kode surat berharga negara yang berkaitan dengan BLBI sesuai dengan Undang-Undang (UU) Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.


“Itu menjadi satu dari 9 rekomendasi DPD RI atas kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) pada Sidang Paripurna RI ke-4 Masa Sidang I Tahun Sidang 2022-2023,” kata dia kepada media, Selasa (11/10/2022).


Ia melanjutkan, Rekomendasi Kedua, Pansus BLBI DPD RI juga menemukan adanya ketidakwajaran (irregularity) dalam proses penjualan aset PT  Bank Central Asia Tbk (BBCA) dari BPPN kepada pembeli baru.


Rekomendasi Ketiga, Pansus BLBI DPD RI menemukan adanya ketidakwajaran saat BBCA dikelola oleh tim kuasa direksi yang ditunjuk oleh Pemerintah.


“Keempat, Pansus BLBI DPD RI menyatakan hasil temuan audit BPK mengenai temuan BLBI belum ada tindak lanjut oleh pemerintah yang diduga adanya indikasi tindak pidana korupsi,” tegas Lanyalla.


Rekomendasi Kelima, dia menyatakan, atas kerja Tim Satgas BLBI yang dibentuk oleh pemerintah yang akan berakhir pada akhir tahun 2023, untuk melakukan penagihan terhadap pihak perbankan atas penunggakkan kewajibannya.


Karena itu, diperlukan peningkatan kewenangan yang diberikan untuk melakukan langkah-langkah yang sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, untuk dapat menuntaskan pengembalian utang perbankan tersebut.


Rekomendasi Keenam, Pimpinan DPD RI telah diminta oleh Pansus BLBI untuk membentuk Pansus Baru dalam rangka menindaklanjuti hasil kerja Pansus BLBI DPD RI yang belum tuntas dan berakhir pada tanggal 8 Oktober 2022.


“Dan Ketujuh, Pansus baru perlu berkoordinasi dengan peran Aparat Penegak Hukum (APH) seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kejaksaan Agung RI, Kepolisian RI, dan lain-lain untuk menindaklanjuti penuntasan kasus BLBI,” paparnya.


Rekomendai Kedelapan, kata Lanyalla, rekomendasi tersebut dibuat Pansus BLBI DPD berdasarkan hasil pembahasan dan penelaahan yang dilakukan oleh Pansus BLBI DPD RI melalui Rapat Pleno, Rapat Kerja, Rapat Dengar Pendapat, Rapat Dengar Pendapat Umum dan Focus Group Discussion (FGD) serta Rapat Konsultasi dengan BPK RI yang berlangsung sejak masa kerja Pansus sebagaimana hasil Sidang Paripurna ke-6 Masa Sidang II Tahun Sidang 2021-2022 tanggal 11 Januari 2022.


Terakhir, Lanyalla menegaskan, rekomendasi Pansus BLBI DPD RI terhadap Penuntasan Kasus BLBI disusun sebagai bentuk pelaksanaan Fungsi Pengawasan DPD RI terhadap akuntabilitas keuangan Negara.


Author: Rizki

user-default

Abdullah Mustafa

18/10/2022, 11:14 WIB

Klikbait banget ini. Karena ini bisa berdampak dan menyangkut nasib ekonomi bangsa, dibaca sampai ujung, eh isinya cuma rilis dari orang yg sedang caper pula. Mending liat Tiktok kalau begini ???? #RIP-Media