EmitenNews.com - Indeks Wall Street akhir pekan lali anjlok. Tiga indeks utama mencatat level terendah dalam tempo tujuh bulan terakhir. Lonjakan harga energi menjadi salah satu pemicu utama tekanan pasar saham. Harga minyak mentah Brent melonjak 4,22 persen menjadi USD 112,57 per barel, dan harga minyak WTI naik 5,46 persen menjadi USD99,64 per barel.

Harga kedua jenis minyak itu, merupakan level penutupan tertinggi sejak Juli 2022. Kenaikan harga minyak dipicu ketegangan Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global. Pemerintah Iran dilaporkan menutup akses jalur tersebut, sementara sejumlah insiden terhadap kapal internasional makin memperburuk kekhawatiran pasar terkait pasokan energi. 

Lonjakan harga minyak, dan komoditas lain memicu kekhawatiran inflasi, dan mempersempit ruang bank sentral untuk menurunkan suku bunga. Pelaku pasar kini tidak lagi memperkirakan pemangkasan suku bunga Federal Reserve (the Fed) tahun ini. Koreksi mayoritas indeks utama Wall Street, dan aksi net sell jumbo investor asing berpotensi menjadi sentimen negatif.

Sementara itu, penguatan mayoritas harga komoditas global diprediksi dapat menjadi sentimen positif untuk pasar. Indeks diprediksi kembali bergerak melemah. Sepanjang perdagangan hari ini, Senin, 30 Maret 2026, indeks diperkirakan menyusuri area support 6.986-6.880, dan resistance 7.205-7.315.

Berdasar data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menyarankan para pelaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, Energi Persada (ENRG), Elnusa (ELSA), AKR Corporindo (AKRA), Merdeka Gold (EMAS), dan Dharma Satya (DSNG), dan Bukit Asam (PTBA). (*)