EmitenNews.com - Akhir pekan lalu, indeks bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street kembali ditutup bervariasi. Dow Jones menguat 74 poin (0,21 persen) menjadi 35.677, S&P 500 mengalami koreksi 5 poin (0,11 persen) ke level 4.545, Nasdaq melemah 126 poin (0,82 persen) pada posisi 15.090, dan EIDO turun 0,06 poin (0,25 persen) pada level 24.38. 


Dow Jones berhasil membukukan penguatan, sedangkan S&P 500, dan Nasdaq terkoreksi. Rotasi investor dari saham sektor teknologi ke saham blue chip menjadi faktor dominan mempengaruhi pergerakan indeks. Sementara itu, laporan keuangan beberapa emiten tidak sesuai ekspektasi juga menjadi tambahan sentimen negatif pasar. 


Intel membukukan pelemahan 11,6 persen setelah melaporkan penjualan lebih rendah dari ekspektasi akibat kelangkaan Chip komputer. Pendapatan perseroan juga meleset dari perkiraan. Emiten teknologi lain yaitu Snap melemah cukup dalam 26,5 persen setelah pendapatan iklan anjlok akibat perubahan kebijakan dari Apple. 


Berbeda dengan Intel dan Snap, emiten teknologi lain seperti Tesla, Netflix, Ebay, dan Microsoft membukukan rekor level tertinggi. Tesla menanjak 1,7 persen ditutup pada level USD909.68 per saham, merupakan harga tertinggi sepanjang sejarah sejak kali pertama sahamnya tercatat di bursa saham. Pencapaian rekor itu, tidak lepas dari soliditas kinerja keuangan Tesla kuartal ketiga tahun ini baik dari sisi pertumbuhan maupun margin. 


Menurut Mino, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas koreksi mayoritas indeks bursa saham AS Wall Street itu, diprediksi  menjadi sentimen negatif di pasar. Sementara itu, optimisme investor seiring soliditas laporan keuangan emiten dalam negeri, dan lompatan sejumlah harga komoditas berpeluang menjadi sentimen positif indeks harga saham gabungan (IHSG).


Indeks diprediksi bergerak bervariasi cenderung menguat dengan support level 6.605, dan resistance level 6.685. Sejumlah saham laik beli antara lain BBCA support Rp7.450, resisten Rp7.600, BBRI support Rp4.340, resisten Rp4.460, WIKA support Rp1.320, resisten Rp1.390, dan JPFA support Rp1.855, resisten Rp1.900. (*)