EmitenNews.com - Indeks bursa Wall Street kemarin ditutup melemah. Itu dipicu kekhawatiran investor terhadap kemungkinan konflik berkepanjangan Amerika Serikat (AS) dan Iran. Padahal, presiden AS Donald Trump sedikit meredakan kekhawatiran tersebut. 

Trump menyatakan angkatan laut AS akan mengawal kapal untuk melintasi selat Hormus jika diperlukan. Lebih lanjut Trump mengatakan apapun yang terjadi AS akan memastikan kelancaran distribusi energi ke seluruh negara. Sementara itu, pada awal sesi perdagangan ketiga indeks sempat melemah cukup signifikan.

Itu menyusul lonjakan harga minyak mentah. Efeknya, imbal hasil obligasi bergerak naik seiring kekhawatiran investor terhadap potensi lebih tingginya angka inflasi. Lompatan inflasi akan menghambat kebijakan pemangkasan suku bunga acuan The Fed. Lonjakan harga komoditas energi diprediksi menjadi sentimen positif pasar. 

Sementara itu, koreksi mayoritas indeks bursa Wall Street, wacana kenaikan RKAB nikel, dan besarnya aksi jual investor asing berpeluang menjadi sentimen negatif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG). So, indeks diprediksi bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 7.825-7.710, dan resistance 8.055-8.170.

Berdasar data dan fakta itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menyarankan para pelaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, London Sumatra (?LSIP), Indosat Ooredoo (?ISAT), XLSmart (?EXCL), Alamtri Resources (?ADRO),  PT Bukit Asam (?PTBA), dan Adaro Andalan Indonesia (?AADI). (*)