Wall Street Menyala, IHSG Kembali Koreksi
:
0
Suasana main Hall Bursa Efek Indonesia. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Mengawali perdagangan Februari 2026, indeks bursa Wall Street kompak ditutup menguat. Itu seiring sentimen negatif kejatuhan harga emas, perak, dan bitcoin mereda. Ya, akhir pekan lalu harga bitcoin turun di bawah USD80 ribu.
Harga perak drop 30 persen, dan emas ambles 11 persen paska-penunjukan Kevin Warsh, dianggap lebih Hawkish sebagai kandidat penerus gubernur The Fed saat ini Jerome Powell. Sementara itu, perhatian investor kini tertuju pada laporan keuangan emiten untuk periode kuartal IV-2025.
Pekan ini, ada lebih dari 100 konstituen S&P 500 akan melaporkan kinerja keuangan termasuk dua emiten berkapitalisasi besar Amazon, dan Alphabet. Penguatan mayoritas indeks Wall Street, harga batu bara, dan hasil pertemuan OJK, dan Self Regulatory Organization (SRO) dengan MSCI akan menjadi sentimen positif pasar.
Sementara itu, terkoreksi signfikan harga minyak mentah, emas, timah, dan nikel berpeluang menjadi sentimen negatif untuk indeks harga saham gabungan (IHSG). So, indeks diprediksi bergerak bervariasi cenderung melemah dengan kisaran support 7.700-7.480, dan resistance 8.145-8.370.
Berdasar data itu, Retail Research CGS International Sekuritas Indonesia menyarankan para pelaku pasar untuk mengoleksi sejumlah saham andalan berikut. Yaitu, Unilever (UNVR), Bukit Asam (PTBA), Jasa Marga (JSMR), Adaro Andalan (AADI), Semen Indonesia (SMGR), dan Perusahaan Gas Negara (PGAS). (*)
Related News
CIMB Niaga Gelar Tour de Bank (TDB), ini Tujuannya
Moratorium Dibuka, BUMN Thailand Kembali Incar Hulu Migas RI
Rumput Laut RI Bebas Tarif AS, Negara Pesaing Kena 12,5%
I-EU CEPA Siap Diteken: Sawit, Karet, Alas Kaki Bebas Tarif
Jajaran Top Losers Sepekan, TCPI, TMPO Hingga FILM
Emiten H Isam (JARR) Masuk Top Gainers Sepekan, Cek Daftar Lengkapnya





