Wall Street Mixed, Minyak Brent Ngamuk ke USD104 per Barel
:
0
Potret Wall Street di Lower Manhattan, Kota New York, Amerika Serikat. Foto: La Hora
EmitenNews.com - Indeks di Wall Street ditutup mixed pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Tekanan datang dari sektor teknologi dan lonjakan harga minyak mentah di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.
Equity Research Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis T. menyampaikan Nasdaq Composite melemah tajam. Koreksi saham teknologi dipicu laporan media yang menyebut pendapatan tahunan OpenAI lebih rendah dari indikasi sebelumnya.
"Meningkatnya harga minyak juga menjadi faktor negatif. Namun penurunan yield US-Treasury menjadi katalis positif," ujar Alrich, Jumat (9/10).
Harga minyak mentah meningkat tajam pada Kamis. Kenaikan dipicu meningkatnya serangan Iran terhadap kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz dan ancaman Badai Isaias terhadap produksi lepas pantai AS di Teluk Meksiko.
Harga minyak Brent ditutup menguat 4% ke level USD104 per barel, sedangkan minyak WTI menguat sekitar 3,6% hingga USD91 per barel. Meskipun demikian harga minyak sempat turun dari level tertinggi intraday setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa AS tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan umum sela bulan November.
“Sebelumnya, dilaporkan bahwa Trump dan tim keamanan nasionalnya sedang mempertimbangkan untuk kembali melancarkan serangan dalam beberapa pekan mendatang,” tutur Alrich.
Di sisi lain, U.S. 10-year Bond Yield turun 4 bps ke level 5,229%, setelah adanya komentar dari pejabat The Fed bahwa kenaikan suku bunga lebih lanjut diperlukan untuk menekan inflasi namun mengisyaratkan bahwa suku bunga tidak perlu dinaikkan segera. Harga emas spot ditutup menguat 0,3% di level USD4.123 per troy oz seiring penurunan yield.
Risiko Inflasi Mengintai
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta juga menilai para pelaku investor global menyoroti lonjakan harga minyak dan meningkatnya kekhawatiran inflasi.
Menurut Nafan, eskalasi konflik di Timur Tengah terkait spekulasi aksi militer AS terhadap Iran kembali menimbulkan risiko terhadap pasokan dan jalur pelayaran minyak. Brent sempat menembus 3,87% di level USD104,08 per barel, sementara WTI melonjak 3,29% di level USD91,18 per bare
Related News
IHSG Kritis, Serbu Saham Tahan Banting Berikut
Ujung Tanduk IHSG di Level 6.000, Ke Mana Arahnya?
Fokus Holding Bergeser, Peringkat Danareksa Turun ke idA+
Jaring Solusi Digital Berbasis AI, Telkomsel Geber NextDev ke-12
IHSG Anjlok 1,88 Persen, Saham Emiten Haji Isam Turun Paling Dalam
MSCI November Diprediksi Masih Freeze Saham Indonesia





