EmitenNews.com—PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) sebagai pengelola wisata milik BUMD DKI Jakarta, hingga semester I-2022 berhasil mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp37,43 miliar atau berbalik arah dari periode sama tahun sebelumnya yang menanggung rugi Rp94,84 miliar.

 

Berkat kinerja keuangan yang ciamik, maka laba per saham dasar BUMD DKI Jakarta ini terkerek jadi Rp23 per lembar, jauh jika melihat tahun 2021 yang rugi Rp59 per lembar saham.

 

Berdasarkan data laporan keuangan Ancol yang disampaikan pada laman BEI, Rabu (27/7/2022) disebutkan, bahwa perseroan membukukan pendapatan usaha per 30 Juni 2022 senilai Rp413,72 miliar atau naik dibandingkan sebelumnya Rp210,87 miliar.

 

Meski beban pokok pendapatan dan beban langsung juga ikut naik jadi Rp187,64 dari sebelumnya Rp140,98 miliar. Tapi, PJAA tetap membukukan laba brutu yang melonjak sangat signifikan menjadi Rp226,07 miliar dibandingkan periode 30 Juni 2021 yang hanya Rp69,88 miliar.

 

Jumlah beban usaha pengelola Ancol itu sepanjang enam bulan pertama tahun 2022 tercatat Rp117,89 miliar naik dari periode sama tahun 2021 Rp91,08 miliar.

 

Sehingga laba sebelum pajak penghasilan terkumpul Rp41,85 miliar, sangat jauh berbeda dari periode sama tahuns ebelumnya yang rugi Rp82,61 miliar. Untuk kewajiban pajak PJAA selama enam bulan ini tercatat Rp5,08 miliar atau turun dari tahun 2021 yang tercatat Rp12,57 miliar.

 

Pada posisi aset, Pembangunan Jaya Ancol (PJAA) tercatat mengalami penurunan menjadi Rp3,98 triliun per 30 Juni 2022 dari akhir tahun 2021 yang tercatat Rp4,42 triliun.

 

Penurunan aset disebabkan oleh PJAA yang berhasil memangkas liabilitas menjadi Rp2,45 triliun dari Rp2,93 triliun. Untuk posisi ekuitas PJAA tercatat Rp1,52 triliun atau malah naik dari akhir tahun 2021 sebesar Rp1,49 triliun.

 

Posisi kas bersih PJAA yang diperoleh dari aktivitas operasi juga ikut melonjak menjadi Rp146,35 miliar dari sebelumnya pos ini tercatat minus Rp25,21 miliar.