Yield Stagnan 4,64%, Druckenmiller Kritik Buyback Utang AS
:
0
Imbal hasil (yield) obligasi Treasury Amerika Serikat tenor 10 tahun bertahan di kisaran 4,64 persen pada perdagangan Rabu.(Ilustrasi: Magnific)
EmitenNews.com - Imbal hasil (yield) obligasi Treasury Amerika Serikat tenor 10 tahun bertahan di kisaran 4,64 persen pada perdagangan Rabu. Pergerakan ini melanjutkan penurunan hampir 10 basis poin dari sesi sebelumnya seiring meredanya kekhawatiran inflasi akibat pelemahan harga minyak dunia.
Berdasarkan laporan Trading Economics penurunan harga minyak yang berlangsung selama tiga sesi berturut-turut membantu menekan ekspektasi inflasi jangka pendek. Kondisi tersebut memberikan ruang penyesuaian bagi imbal hasil surat utang pemerintah AS di pasar global.
Pelaku pasar juga sedang mencermati rencana Departemen Keuangan AS yang akan menggandakan nilai pembelian kembali (buyback) utang negara. Langkah kebijakan fiskal ini memicu perdebatan di kalangan investor institusional global.
Investor kawakan Stanley Druckenmiller melontarkan kritik terhadap rencana buyback tersebut karena dinilai berisiko mengganggu stabilitas pasar keuangan.
"Langkah tersebut merusak kredibilitas pasar Treasury dan menyia-nyiakan kesempatan untuk reformasi utang yang berarti," ujar Druckenmiller.
Di saat bersamaan, perhatian investor tertuju pada rilis data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS yang merupakan indikator inflasi acuan Federal Reserve. Data ini dirilis menjelang pidato Ketua Fed Kevin Warsh di simposium tahunan Jackson Hole pada Jumat mendatang, meski ia diperkirakan belum memberi panduan eksplisit terkait suku bunga September.
Stabilitas imbal hasil obligasi AS dan arah inflasi ini menjadi sentimen penting bagi pasar keuangan Indonesia. Pergerakan yield Treasury berpotensi memengaruhi tingkat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), stabilitas nilai tukar Rupiah, serta arus modal asing di pasar obligasi domestik.(*)
Related News
Di RUPSLB Daring, Dirut PLN Berganti dari Darmawan ke Suroso Isnandar
Dolar AS Capai Level Tertinggi dalam 18 Bulan
Harapan Besar dari TEI 2026, Mendag Bidik Transaksi Rp313,25 Triliun
Emas Dunia Tertahan, Emas Antam Ikut Stagnan
Suku Bunga AS Berpotensi Naik, Harga Emas Global Tahan Diri
Daya Tawar Lemah, Harga Baja HRC Indonesia Merosot ke USD515





