2025 Subsektor Mamin Sumbang 41,26 Persen Ke Industri Pengolahan
Inspektur Jenderal M. Rum saat membuka Bazar Ramadhan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Perindustrian Tahun 2026 di Jakarta, Rabu (25/2).
EmitenNews.com - Peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap makanan dan minuman (mamin), tekstil, serta pakaian jadi selama Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri turut mendukung stabilitas ekonomi melalui perputaran usaha mikro dan kecil.
“Peningkatan kebutuhan selama bulan suci diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi kinerja sektor industri nasional,” kata Inspektur Jenderal M. Rum saat membuka Bazar Ramadhan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Perindustrian Tahun 2026 di Jakarta, Rabu (25/2).
Kinerja sektor industri pengolahan nasional sepanjang 2025 menunjukkan tren yang semakin solid. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan industri pengolahan pada 2025 mencapai 5,30 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,11 persen.
Capaian ini menandai kembalinya peran industri pengolahan sebagai motor utama perekonomian nasional setelah terakhir kali terjadi pada tahun 2011. Kontribusi industri pengolahan terhadap perekonomian nasional juga terus meningkat secara konsisten.
Pada 2025, kontribusi sektor ini tercatat mencapai 19,07 persen atau setara Rp4.541,52 triliun. Di sisi perdagangan luar negeri, industri pengolahan nonmigas membukukan nilai ekspor sebesar USD227,1 miliar atau 80,27 persen dari total ekspor nasional, dengan surplus neraca perdagangan mencapai USD38,91 miliar.
“Dengan meningkatnya permintaan kebutuhan rumah tangga pada periode Ramadhan dan menjelang Idul Fitri ini, saya dapat mengatakan bahwa Ramadhan selalu membawa berkah tersendiri bagi industri nasional,” tegasnya.
Dalam menghadapi lonjakan permintaan tersebut, Kemenperin memastikan sektor industri, khususnya produsen barang kebutuhan pokok, berada dalam kondisi siap.
Industri mamin sepanjang 2025 tumbuh sebesar 6,38 persen, didukung oleh permintaan domestik dan ekspor. Subsektor ini juga memberikan kontribusi signifikan, yakni 41,26 persen terhadap industri pengolahan nonmigas dan 7,13 persen terhadap perekonomian nasional.
Sementara itu, industri tekstil dan pakaian jadi juga mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 3,55 persen pada 2025, dengan kontribusi 5,59 persen terhadap industri pengolahan nonmigas. Kondisi ini mencerminkan industri dalam negeri memiliki daya saing dan kapasitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Kemenperin menilai, Bazar Ramadhan memiliki peran strategis sebagai ruang interaksi ekonomi sekaligus sarana memperkuat kecintaan terhadap produk dalam negeri. Melalui bazar, distribusi produk industri nasional dapat diperluas dan tepat sasaran, memberikan akses bagi masyarakat terhadap produk yang beragam, berkualitas, dan terjangkau, sekaligus memperkuat permintaan domestik.
“Bazar Ramadhan bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi merupakan bagian dari upaya kolektif untuk memperkuat penggunaan produk dalam negeri, sehingga industri nasional dapat terus tumbuh dan berdaya saing,” ujar Irjen.
Perwakilan Ketua DWP Kemenperin Lusi Taufiek Bawazier menyampaikan, Bazar Ramadhan DWP Kemenperin Tahun 2026 diikuti 69 booth dan didukung 32 sponsor, dengan menghadirkan beragam produk industri dalam negeri, mulai dari fashion, makanan dan minuman, perbankan, elektronika, otomotif, hingga produk kosmetika, parfum, dan peralatan makan.
“Kami berharap agar kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi seluruh peserta dan pengunjung, serta menjadi bagian dari upaya bersama dalam menjaga keberlanjutan industri dalam negeri melalui peningkatan konsumsi produk nasional,” katanya.
Tahun ini, kegiatan bazar DWP Kemenperin mengusung tema semangat “Belanja Berkah Produk Pilihan untuk Menjaga Industri Dalam Negeri”. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, mulai 25 hingga 27 Februari 2026 di Plasa Industri Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta.(*)
Related News
Produk UMKM Ramaikan Etalase Kuliner KA Jarak Jauh
Program Gentengisasi Perlu Diikuti Penerapan Standarisasi
Ikuti Wall Street, IHSG Kembali Menyala
Konsolidatif, IHSG Arungi Level 8.350
IHSG Perkasa, Borong Saham ANTM, ARCI, ADMR, dan HRUM
IHSG Bangkit ke 8.322, Sektor Kesehatan dan Konsumer Pimpin Rebound





