EmitenNews.com - Sejumlah emiten farmasi telah melaporkan kinerja sepanjang paruh pertama 2026. Mulai dari membukukan laba melejit, hingga yang terperosok karena meraup rugi bersih sepanjang semester pertama tahun berjalan.

Emiten farmasi pelat merah BUMN misalnya, PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp54,07 miliar di semester I-2026, capaian itu berbalik positif dibandingkan periode yang sama tahun lalu kala merugi Rp135,61 miliar.

Ada pula emiten dengan brand Tolak Angin yang familiar ada di toko kelontong atau minimarket, yaitu PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO). Pada semester pertama 2026, SIDO justru membukukan penurunan laba dari periode tahun sebelumnya menjadi Rp333 miliar dari Rp600 miliar.

Beberapa emiten farmasi lain juga membukukan kinerja yang beragam, seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan emiten produsen Enervon-C yaitu PT Darya-Varia Laboratoria Tbk (DVLA). Lantas, bagaimana kinerja masing-masing emiten farmasi tersebut sepanjang paruh pertama tahun 2026, berikut selengkapnya.

PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF)

Emiten farmasi pelat merah BUMN ini membukukan laba bersih mencapai Rp54,07 miliar pada paruh pertama 2026, jumlah tersebut berbalik positif dibandingkan catatan rugi di tahun lalu sebesar Rp135,61 miliar. Pertumbuhan itu ditopang oleh naiknya penjualan bersih mencapai 7,6% menjadi Rp4,70 triliun dari Rp4,36 triliun.

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO).

Pada semester I 2026, emiten dengan brand Tolak Angin yang cukup dikenal masyarakat, mencatatkan penurunan penjualan 19,78% menjadi Rp1,46 triliun dari periode tahun sebelumnya sebesar Rp1,82 triliun.  Alhasil, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk anjlok 44,50% dari Rp600 miliar menjadi Rp333 miliar.

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF)

Mengarungi paruh pertama 2026, KLBF membukukan penjualan neto Rp19,47 triiun, meningkat 14,06% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp17,07 triliun. Meski begitu, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga turun tipis 3,05% menjadi Rp1,91 triliun dari tahun lalu mencapai Rp1,97 triliun.