Agar Pertumbuhan Ekonomi Indonesia tak Layu Sebelum Berkembang
Ilustrasi foto pertumbuhan ekonomi.
EmitenNews.com - Berada di tengah lanskap global yang masih dipenuhi ketidakpastian pascapemulihan ekonomi dunia, Indonesia menetapkan standar yang sangat tinggi bagi dirinya sendiri yakni, mengejar pertumbuhan ekonomi di level 8 persen.
Bagi sebagian orang yang skeptis, angka ini mungkin terdengar seperti utopia atau janji politik semata. Namun, bagi saya yang telah menghabiskan puluhan tahun menganalisis pergerakan angka dan kebijakan di pasar modal, target ini bukanlah sebuah kemustahilan. Ini adalah sebuah tantangan yang bisa dijawab jika, dan hanya jika, mesin-mesin pertumbuhan ekonomi kita dinyalakan secara serentak dan maksimal.
Kita tidak bisa lagi mengandalkan cara kerja business as usual atau pertumbuhan organik yang hanya berkisar di angka 5 persen. Untuk melompat ke level 8 persen, kita membutuhkan transformasi struktural dan stimulus masif yang tepat sasaran. Berdasarkan analisis mendalam terhadap postur anggaran dan arah kebijakan strategis pemerintah, saya melihat ada lima pilar utama yang menjadi "bahan bakar roket" untuk membawa PDB kita terbang tinggi.
Kelima faktor ini saling terkait dan menciptakan efek domino yang positif. Jika satu pilar bergerak, ia akan menarik pilar lainnya. Mari kita bedah satu per satu strategi besar ini dengan kepala dingin dan kalkulator di tangan.
Konsumsi Rumah Tangga: Menjaga Dompet Rakyat Tetap Tebal
Pilar pertama dan yang paling krusial adalah konsumsi rumah tangga. Kita tidak boleh lupa bahwa lebih dari separuh ekonomi Indonesia digerakkan oleh belanja masyarakat. Jika rakyat menahan uangnya, ekonomi akan macet. Oleh karena itu, strategi "menggenjot consumer spending" adalah langkah wajib yang tidak bisa ditawar.
Pemerintah tampaknya sangat sadar akan hal ini dengan menggelontorkan berbagai insentif fiskal yang langsung menyasar daya beli. Kebijakan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah atau PPN DTP untuk sektor properti dan otomotif, serta Pajak Penghasilan Pasal 21 Ditanggung Pemerintah atau PPh 21 DTP bagi karyawan, adalah instrumen yang sangat cerdas.
Ketika pemerintah menanggung pajak penghasilan karyawan, efek psikologis dan riilnya langsung terasa. Gaji bersih yang dibawa pulang menjadi lebih besar. Uang tambahan di kantong konsumen dari take home pay ini tidak akan didiamkan begitu saja. Ia akan mengalir ke pasar untuk membeli kebutuhan sekunder, tersier, atau membayar cicilan. Begitu pula dengan subsidi listrik dan bantuan sosial yang tepat sasaran.
Tujuannya sederhana yakni menjaga agar uang di tangan rakyat tidak tergerus oleh inflasi atau biaya hidup dasar. Ketika rakyat memiliki uang lebih, mereka akan percaya diri untuk berbelanja. Belanja inilah yang membuat pabrik terus berproduksi, toko ritel tetap buka, dan perputaran uang di level akar rumput menjadi kencang. Tanpa konsumsi domestik yang kuat, mimpi 8 persen akan layu sebelum berkembang.
Hilirisasi: Transformasi dari Sekadar Negara Komoditas & Energi Menjadi Negara Industri
Namun, konsumsi saja tidak cukup. Kita butuh fondasi produksi yang kuat, dan di sinilah peran pilar kedua yaitu investasi di hilirisasi. Narasi hilirisasi yang dimulai dari nikel kini harus meluas secara agresif ke komoditas lain seperti tembaga, bauksit, timah, hingga produk agro dan maritim. Pemerintah harus mendorong investasi besar-besaran di sektor pengolahan ini bukan hanya untuk menambah nilai jual ekspor, tetapi untuk tujuan yang lebih fundamental yaitu penciptaan lapangan kerja berkualitas. Pertumbuhan ekonomi 8 persen membutuhkan penyerapan tenaga kerja yang masif untuk menekan angka pengangguran dan meningkatkan pendapatan per kapita.
Pabrik smelter, pabrik baterai kendaraan listrik, hingga industri pengolahan pangan membutuhkan ribuan insinyur, teknisi, dan tenaga operasional. Ketika investasi masuk ke sektor hilirisasi, kita tidak lagi sekadar menjual Tanah Air dalam arti harfiah (tanah yang mengandung mineral), tetapi menjual produk jadi. Efek pengganda dari satu pabrik hilirisasi sangat luar biasa. Di sekitar pabrik multiplier effect akan menumbuhkan usaha katering, kos-kosan, transportasi, dan jasa lainnya. Inilah yang disebut industrialisasi modern. Investor saham harus jeli melihat emiten mana yang serius terjun ke hilirisasi, karena di sanalah pertumbuhan laba jangka panjang akan tercipta. Pemerintah berperan sebagai dirigen yang memastikan izin lancar dan insentif pajak tersedia bagi mereka yang mau membangun pabrik di dalam negeri.
Menyiapkan “Karpet Merah” untuk Modal Asing
Pilar ketiga adalah Penanaman Modal Asing Langsung atau Foreign Direct Investment (FDI). Harus realistis bahwa tabungan domestik kita belum cukup untuk membiayai seluruh proyek pembangunan menuju target 8 persen. Kita butuh modal asing. Namun, modal asing itu ibarat gadis cantik yang diperebutkan banyak pemuda. Indonesia harus bersaing dengan Vietnam, India, dan Thailand untuk menarik minat investor global. Oleh karena itu, menciptakan iklim investasi yang kondusif adalah harga mati. Pemerintah harus bisa memberikan kepastian hukum, kemudahan perizinan, dan stabilitas politik yang tidak bisa diganggu gugat.
Investor asing tidak hanya melihat potensi pasar, tetapi juga risiko. Jika regulasi kita berubah-ubah atau birokrasi kita berbelit, mereka akan pergi ke negara tetangga. Di tahun 2026 ini, kita perlu melihat realisasi komitmen investasi dari raksasa teknologi dan manufaktur dunia. Masuknya FDI membawa dua keuntungan sekaligus, yakni modal segar dan transfer teknologi. Ketika pabrik asing berdiri di Jawa Tengah atau Sulawesi, mereka membawa standar operasional global yang bisa dipelajari oleh tenaga kerja kita. Selain itu, arus masuk modal asing dalam bentuk FDI bersifat jangka panjang dan lebih stabil dibandingkan investasi portofolio pasar saham, sehingga bisa menjadi penopang fundamental ekonomi yang kokoh terhadap guncangan eksternal.
Ekspor: Mengisi Pundi-Pundi Devisa Negara
Selanjutnya, pilar keempat adalah menggenjot kinerja ekspor. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi membutuhkan impor barang modal dan bahan baku yang besar. Untuk membiayai impor tersebut agar tidak defisit, kita harus memiliki kinerja ekspor yang superior. Ekspor perlu digenjot bukan hanya dari sisi volume komoditas mentah, tetapi produk manufaktur bernilai tambah tinggi hasil dari hilirisasi tadi. Semakin banyak kita mengekspor produk jadi, semakin besar cadangan devisa yang kita kumpulkan di Bank Indonesia.
Related News
Menakar Dampak Sentimen Global Terhadap Arus IHSG di Q1-2026
Strategi Investasi Saham 2026, Sudah Saatnya Bermain Aman
Optimisme Tanpa Data, Penyakit Klasik Investor Impulsif di Pasar Saham
Mekanisme Suspensi Saham Sudah Saatnya Dihapus dari Bursa
Meneropong Risiko Saham Pasca-IPO
Outlook Masa Depan Bisnis Pertanian





