Seruan Serok Saham di Tengah Krisis: Logika vs Realitas Investor Ritel
Ilustrasi beli saham saat harga tengah terkoreksi. Sumber foto: Canva.com
EmitenNews.com - Setiap kali pasar keuangan bergejolak, selalu muncul seruan optimistis agar investor memanfaatkan momentum dengan membeli saham saat harga jatuh. Kali ini pun demikian. Pejabat kembali mendorong publik untuk berani serok saham di tengah krisis pasar. Secara teori, imbauan ini terdengar rasional dan sejalan dengan prinsip investasi klasik: membeli ketika harga murah dan sentimen negatif. Dalam literatur pasar modal, pendekatan tersebut kerap dianggap ideal untuk membangun keuntungan jangka panjang .
Namun, bagi investor ritel yang menabung saham secara bertahap dari sisa penghasilan bulanan, seruan tersebut sering kali terasa jauh dari realitas. Ketika portofolio tiba-tiba terperosok dalam, yang dipikirkan bukan lagi peluang tambahan, melainkan bagaimana menjaga nilai tabungan agar tidak tergerus lebih dalam. Ketika situasi tekanan ekonomi, kenaikan biaya hidup, dan ketidakpastian pendapatan terjadi, kemampuan untuk mengambil risiko tambahan menjadi sangat terbatas.
Optimisme Kebijakan dan Asumsi Likuiditas
Masalah utama dari seruan serok saham bukan terletak pada niatnya, melainkan pada asumsi yang menyertainya. Imbauan tersebut seolah berangkat dari anggapan bahwa seluruh investor berada dalam posisi likuiditas yang relatif sama dan siap memanfaatkan koreksi pasar. Dalam praktiknya, asumsi ini jauh dari kenyataan.
Mayoritas investor ritel telah menempatkan dana secara disiplin jauh sebelum krisis terjadi. Mereka bukan pelaku dengan cadangan kas besar yang dapat digerakkan secara oportunistis, melainkan individu yang mengalokasikan dana secara rutin dan terbatas. Ketika volatilitas memuncak, investor ritel tidak sedang menunggu momentum beli ideal, tetapi menghadapi penurunan nilai dari akumulasi investasi bertahun-tahun yang terkoreksi dalam waktu singkat.
Perspektif Makro yang Tidak Selalu Turun ke Lapangan
Seruan serok saham umumnya lahir dari perspektif makro yang menekankan pentingnya menjaga stabilitas indeks, memanfaatkan koreksi valuasi, serta menahan kepanikan agar tidak berkembang menjadi krisis kepercayaan. Dari sudut pandang pembuat kebijakan, narasi ini berfungsi sebagai jangkar psikologis kolektif untuk menenangkan pasar.
Namun, pendekatan ini sering kali tidak sepenuhnya turun ke realitas lapangan. Struktur pelaku pasar sangat heterogen. Asumsi likuiditas yang melekat dalam imbauan tersebut mungkin relevan bagi investor institusional, manajer dana, atau individu bermodal besar. Bagi investor ritel, kondisi tersebut jarang terjadi. Dana investasi umumnya telah teralokasi penuh, sementara tambahan dana membutuhkan pengorbanan konsumsi, penundaan kebutuhan lain, atau bahkan menambah tekanan keuangan pribadi.
Investor Ritel: Menabung Saham, Bukan Berjudi
Bagi investor ritel, aktivitas di pasar saham lebih menyerupai proses menabung jangka panjang daripada spekulasi agresif. Mereka berusaha konsisten, menerima volatilitas sebagai risiko yang melekat, dan berharap pertumbuhan nilai secara gradual. Strategi ini menuntut kesabaran dan disiplin, bukan keberanian impulsif. Ketika krisis datang, ruang untuk melakukan pembelian tambahan sering kali tidak tersedia. Dalam kondisi seperti ini, seruan serok saham bukan hanya sulit diikuti, tetapi juga berpotensi menimbulkan tekanan psikologis. Investor ritel seolah ditempatkan pada posisi serba salah: tidak menambah dianggap kurang berani, sementara menambah justru berisiko memperburuk kondisi keuangan rumah tangga.
Narasi Elitis dan Risiko Erosi Kepercayaan
Ketimpangan perspektif ini berpotensi melahirkan narasi yang terkesan elitis. Ketika peluang terus ditekankan tanpa pengakuan atas keterbatasan investor kecil, muncul kesan bahwa pasar dan kebijakan lebih ramah bagi mereka yang telah memiliki modal besar sejak awal. Padahal, dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan jumlah investor ritel menjadi salah satu penopang utama pendalaman pasar modal domestik. Mengabaikan realitas investor ritel sama artinya dengan mengabaikan fondasi partisipasi pasar itu sendiri. Jika kelompok ini merasa pengalaman dan keterbatasannya tidak dipahami, kepercayaan jangka panjang terhadap pasar dan otoritas berisiko terkikis secara perlahan.
Risiko Penyederhanaan dalam Seruan Serok Saham
Selain persoalan likuiditas, narasi serok saham yang terlalu normatif juga berisiko menyederhanakan kompleksitas risiko pasar. Penurunan harga tidak selalu berarti murah secara fundamental, dan krisis tidak selalu berumur pendek. Investor ritel yang didorong untuk tetap optimistis tanpa penekanan memadai pada risiko berpotensi mengambil keputusan yang tidak sejalan dengan profil keuangan dan tujuan investasinya. Dalam konteks ini, bertahan dan tidak menambah eksposur justru bisa menjadi keputusan rasional, bukan tanda kepanikan atau kurangnya pemahaman.
Implikasi bagi Komunikasi Kebijakan Pasar Modal
Fenomena ini menunjukkan bahwa komunikasi kebijakan di pasar modal memegang peranan krusial. Optimisme tetap diperlukan untuk menjaga stabilitas, tetapi harus dibarengi empati dan pengakuan atas realitas lapangan. Seruan serok saham seharusnya diimbangi dengan pesan tentang manajemen risiko, pentingnya menjaga likuiditas pribadi, serta legitimasi bagi investor ritel yang memilih bertahan di tengah ketidakpastian. Pendekatan komunikasi yang lebih realistis berpotensi memperkuat kepercayaan investor ritel sekaligus menciptakan pasar yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Kesimpulan: Optimisme Tanpa Empati Kehilangan Relevansi.
Related News
Apakah Mundurnya Pejabat BEI dan OJK Sudah Menjawab Respons Publik?
Eksodus OJK dan Pertaruhan Integritas: Harga Sebuah Kepercayaan
Seni Mengelola Risiko Transformasi SDM BUMN
Analisis Hukum dan Etika Kasus Kelas Investasi Cryptocurrency
Menakar Dampak MSCI Terhadap Pasar Modal Indonesia
Saham Rontok, BEI Minim Aksi: Relevankah Ajak Rakyat Nabung Saham?





