EmitenNews.com - Kinerja PT ALAMTRI RESOURCES INDONESIA Tbk (ADRO) sepanjang sembilan bulan pertama di tahun 2026 sukses mencuri perhatian pasar. Perusahaan tidak hanya mencatatkan pertumbuhan penjualan yang fantastis, tapi juga lonjakan keuntungan yang luar biasa tebal. 

Menariknya, resep rahasia di balik cuan jumbo ini tidak lagi semata-mata bergantung pada jualan batu bara, melainkan hadirnya mesin uang baru dari sektor pengolahan logam, yaitu aluminium, yang langsung unjuk gigi menyumbang pendapatan besar di tahun pertamanya.

Lonjakan Penjualan dan Untung yang Makin Tebal 

Sepanjang periode hingga akhir September 2026, ADRO berhasil mengantongi pendapatan sebesar 1,90 miliar dolar AS, melonjak tajam sekitar 41 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya berada di angka 1,34 miliar dolar AS. Kenaikan pendapatan ini rupanya diikuti dengan pengelolaan ongkos bisnis yang sangat efisien. 

Alhasil, laba operasional perusahaan melompat hampir dua kali lipat, tepatnya naik 96 persen menjadi 699,78 juta dolar AS. Keberhasilan menekan ongkos produksi ini langsung bermuara pada keuntungan akhir perusahaan, di mana laba bersih ADRO terbang hingga 82 persen menjadi 606,65 juta dolar AS. 

Kemampuan perusahaan mencetak pundi-pundi uang juga semakin mengesankan karena tingkat keuntungan bersih dari setiap nilai penjualan kini menyentuh level hampir 32 persen, yang artinya dari setiap seratus perak barang yang terjual, perusahaan bisa mengantongi untung bersih sekitar tiga puluh dua perak.

Bukan Cuma Batu Bara, Aluminium Jadi Bintang Baru 

Kalau kita bedah dari mana saja sumber pundi-pundi uang tersebut, terlihat ada perubahan besar dan segar dalam tubuh ADRO. Penjualan hasil tambang mineral dan batu bara memang masih menjadi tulang punggung utama dengan menyumbang pendapatan sebesar 725,07 juta dolar AS atau sekitar 38 persen dari total keseluruhan omzet. 

Namun, kejutan terbesarnya ada pada bisnis penjualan aluminium. Segmen yang pada tahun lalu belum menghasilkan uang sepeser pun ini, tiba-tiba meledak dan langsung meraup pendapatan sebesar 522,41 juta dolar AS atau menguasai porsi 27 persen dari kantong perusahaan. 

Kehadiran bisnis pengolahan logam ini sangat krusial karena sukses menutupi sedikit penurunan pada bisnis jasa pertambangan mereka, yang tahun ini menyusut sekitar tiga setengah persen menjadi 623,04 juta dolar AS.