EmitenNews.com - Kinerja keuangan PT Total Bangun Persada Tbk atau TOTL mencatatkan lompatan yang mengesankan hingga kuartal ketiga tahun 2026. Perusahaan kontraktor ini sukses mengantongi laba bersih sebesar Rp448,70 miliar, meroket 51,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp295,42 miliar. 

Laba sebelum pajak entitas ini juga terbang 51,67 persen menjadi Rp451,03 miliar dari sebelumnya Rp297,37 miliar. Kunci utama dari ledakan keuntungan ini rupanya bukan sekadar dari pendapatan proyek utama, melainkan adanya durian runtuh dari laba proyek kerja sama operasi atau proyek ventura bersama yang melesat gila-gilaan hingga 655,80 persen, dari yang tadinya hanya Rp21,48 miliar menjadi Rp162,37 miliar.

Uang Masuk Deras Meski Biaya Ikut Naik

Lonjakan laba bersih TOTL sejalan dengan uang masuk alias pendapatan usaha yang mengalir deras ke kas perusahaan. Hingga 30 September 2026, perusahaan mencetak pendapatan sebesar Rp3,51 triliun, tumbuh 26,11 persen atau bertambah sekitar Rp727,46 miliar dibandingkan pencapaian tahun lalu yang berada di angka Rp2,78 triliun. 

Menariknya, beban pokok pendapatan perusahaan sebenarnya juga ikut membengkak sebesar 28,05 persen, sedikit lebih cepat dari pertumbuhan uang masuknya. Namun, berkat suntikan dana segar dari laba proyek ventura tadi, laba kotor perusahaan setelah ditambah hasil ventura melonjak tajam 42,08 persen menyentuh angka Rp816,80 miliar dibandingkan tahun lalu yang tercatat Rp574,89 miliar. 

Jika keuntungan ventura itu dikeluarkan, laba kotor inti dari operasional perusahaan tetap naik 18,25 persen menjadi Rp654,43 miliar dari sebelumnya Rp553,40 miliar.

Dua Klien Raksasa Penopang Utama Pendapatan

Di balik pendapatan triliunan tersebut, ada fakta menarik mengenai dari mana uang tersebut berasal. Hampir 37,72 persen atau sekitar Rp1,32 triliun dari total pendapatan perusahaan ternyata hanya disumbang oleh dua pelanggan besar. Klien pertama adalah PT STT GDC Indonesia yang menyetor pendapatan tertinggi mencapai Rp730,32 miliar atau mewakili 20,79 persen dari total pendapatan. 

Angka dari STT GDC ini naik 11,63 persen dibandingkan setoran tahun lalu yang sebesar Rp654,20 miliar, meski porsinya sedikit mengecil dari sebelumnya 23,48 persen. Kejutan terbesar datang dari klien kedua, yakni PT Chandra Asri Alkali. 

Nilai tagihan konstruksi dari perusahaan petrokimia ini meledak hebat 416,83 persen menjadi Rp594,97 miliar, jauh melampaui setoran tahun lalu yang hanya Rp115,11 miliar. Kini, Chandra Asri menguasai 16,93 persen porsi pendapatan TOTL, berbanding terbalik dengan posisinya tahun lalu yang cuma 4,13 persen.