EmitenNews.com - Dalam konstelasi bisnis Grup Adaro, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) memegang peran yang sangat kontras dibandingkan dengan entitas lainnya. Jika saudara tuanya berfokus pada pemanenan kas dari batubara termal, ADMR justru diposisikan sebagai ujung tombak transformasi menuju industri hijau grup. Namun, laporan keuangan terbaru per September 2025 menunjukkan bahwa transisi ini tidaklah murah. Di balik narasi futuristik smelter aluminium, tersimpan teka-teki mengenai penurunan kinerja operasional dan beban utang yang mulai mendaki secara signifikan.

Kontraksi Laba di Tengah "Emas Hitam" Kokas

Data keuangan 9M2025 mengungkap bahwa ADMR tidak kebal terhadap normalisasi harga komoditas global. Pendapatan usaha tercatat turun sekitar 20 persen menjadi Rp11,26 triliun (USD 675,1 juta) dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Penurunan ini berdampak lebih dalam pada laba bersih periode berjalan yang tergerus hingga 39 persen, dari posisi Rp5,52 triliun menjadi Rp3,36 triliun (USD 201,7 juta). Penurunan margin ini menjadi sinyal penting bagi investor bahwa "benteng" batubara kokas (coking coal) mulai menghadapi tekanan harga, yang mana laba dari sektor ini seharusnya menjadi "bensin" utama untuk mendanai proyek-proyek hijau masa depan perusahaan.

Pertaruhan Jumbo di Tengah Lonjakan Aset Tetap Rp25,74 Triliun

Anomali paling menarik ditemukan pada struktur aset perusahaan. Meskipun laba menurun, ADMR justru mencatatkan lonjakan aset tetap yang sangat masif, naik dari Rp15,01 triliun pada akhir 2024 menjadi Rp25,74 triliun (USD 1,54 miliar) per September 2025. Sebagian besar kenaikan ini terkonsentrasi pada anak usaha strategis seperti PT Kalimantan Aluminium Industry yang memiliki aset Rp20,93 triliun (USD 1,25 miliar) namun statusnya tercatat belum beroperasi. 

Angka ini mengonfirmasi bahwa perusahaan sedang berada dalam fase konstruksi puncak untuk proyek smelter aluminium di Kalimantan Utara, sebuah pertaruhan capital expenditure (belanja modal) yang akan menentukan valuasi jangka panjang ADMR.

Utang Bank yang Mendaki dan Jeda Eksplorasi

Agresivitas pembangunan proyek hijau ini mulai tercermin pada profil liabilitas perusahaan. Utang bank jangka panjang ADMR membengkak dua kali lipat dalam sembilan bulan, dari Rp4,93 triliun menjadi Rp9,86 triliun (USD 591,5 juta). Kenaikan beban utang ini, di tengah laba operasional yang menyusut, menciptakan tekanan pada rasio likuiditas. 

Menariknya, laporan eksplorasi Januari 2026 menunjukkan bahwa pada Kuartal IV 2025, PT Maruwai Coal mencatatkan nol pengeboran baru. Jeda operasional ini memberikan indikasi kuat bahwa manajemen kemungkinan sedang mengalihkan seluruh sumber daya dan fokus pendanaan untuk mempercepat penyelesaian smelter, alih-alih terus berekspansi di sektor hulu tambang batubara kokas.

Membaca Sinyal bagi Investor

ADMR saat ini merupakan cerita tentang keberanian melakukan lompatan rantai nilai. Transisi dari model bisnis tambang yang menghasilkan kas cepat menuju industri pengolahan logam yang padat modal adalah pedang bermata dua. 

Bagi investor, penurunan laba 39 persen adalah biaya peluang (opportunity cost) yang harus dibayar untuk pertumbuhan di masa depan. Namun, ketergantungan pada utang bank yang mencapai hampir Rp10 triliun menuntut ketelitian dalam memantau jadwal operasional smelter. Keterlambatan satu kuartal saja dalam komersialisasi smelter aluminium dapat mengubah "mesin pertumbuhan" ini menjadi beban keuangan yang berat bagi grup. Di tahun transisi ini, setiap titik bor yang absen di Maruwai adalah pengingat bahwa masa depan ADMR kini sepenuhnya digantungkan pada keberhasilan proyek hijau di Kalimantan Utara.

Disclaimer: Keputusan investasi sepenuhnya milik Anda, riset ini adalah instrumen edukasi, bukan instruksi transaksi.