Asa Baru Jurnalis TV Menjadi Wirausaha Ayam Petelur
:
0
ini menjadi bukti bahwa meski roda industri media terus berputar dan berubah, semangat para insan pers untuk bangkit dan berdaya tak pernah padam.
EmitenNews.com - Dunia pers Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Nyaris setiap bulan ada saja kabar tidak sedap dari perusahaan media. " Kami prihatin setiap kali mendengar kabar, perusahaan X akan me-layoff sekian jurnalisnya", ujar Herik Kurniawan Ketua Ikatan Jurnalis TV Indonesia (IJTI) kepada EmitenNews. " Industri media di Indonesia saat ini masih berjuang, menjaga harapan untuk keberlangsungan usaha, dengan mencari model bisnis baru di tengah disrupsi yang sangat luar biasa".
Wajar bila Herik gundah karena 2 tahun ini saja, menurut data AJI, tidak kurang sudah 800 jurnalis terkena PHK. Gelombang PHK (layoff) yang melanda bisnis tv inilah yang membuat ratusan pewarta rela melepas pena dan kameranya untuk beralih profesi. Mereka banting stir mencoba menjadi peternak ayam petelor. Situasi ekonomi politik boleh bergolak tapi asa untuk mandiri secara ekonomi juga harus terus bergejolak. Sebanyak 135 jurnalis dan mantan jurnalis TV berkumpul di Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara, Bogor, Jawa Barat. Selama dua hari, Rabu (14/10/2026) hingga Kamis (15/10/2026), mereka tekun menyerap ilmu dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Ternak Ayam Petelur.Di bawah sejuknya udara Cinagara, Bogor, para mantan pekerja media ini bersiap membuka lembaran baru melalui sektor agribisnis.
Kegiatan ini lahir dari kolaborasi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, BBPKH Cinagara, dan Yayasan Agrijurno Maju Bersama (AMB). Sumber pendanaan berasal dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian. Salah satu unit eselon I Kementan yang bertugas menyelenggarakan penyuluhan serta pengembangan sumber daya manusia di bidang pertanian. Selain itu AMB juga mendapat bantuan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari PT Pupuk Indonesia (Persero) atau PIHC. Bagi Yayasan AMB—wadah yang menaungi sekitar 300 eks jurnalis terdampak layoff—pelatihan ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan jembatan menuju ketahanan ekonomi keluarga.
Sumber pendanaan berasal dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), unit eselon I di bawah Kementerian Pertanian yang bertugas menyelenggarakan penyuluhan serta pengembangan sumber daya manusia di bidang pertanian. Secara teknis, penyaluran dilakukan melalui Polbangtan, lembaga pendidikan vokasi di bawah naungan BPPSDMP. Sementara itu, BBPKH berperan dalam penyelenggaraan pelatihan, sedangkan Yayasan AMB menangani perekrutan dan seleksi peserta. Dana Tanggungjawab Sosial (CSR) dari Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) membantui Yayasan AMB untuk membiayai transportasi peserta dari luar kota seperti Cimahi, Cirebon, Cilegon, Yogyakarta dan lainnya, sehingga kesempatan mengikuti pelatihan tidak hanya terbatas bagi jurnalis dan eks jurnalis yang berdomisili di sekitar lokasi kegiatan.
Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Mengingat latar belakang peserta yang terbiasa bersikap kritis, ruang kelas penuh dengan diskusi tajam seputar teknis budidaya hingga kalkulasi bisnis. Pembekalan dihadiri langsung oleh Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Komunikasi Publik Imam Wahyudi, Kepala BBPKH Cinagara Dr. Inneke Kusumawaty, dan Direktur Polbangtan Bogor Yoyon Haryanto.
Pelatihan dibagi dalam dua gelombang. Sebanyak 67 peserta mengikuti Gelombang (Batch) 3 pada hari pertama, disusul 68 peserta di Gelombang 4 pada hari berikutnya. Ditambah dengan alumni Gelombang 1 dan 2 pada 2025 lalu, kini tercatat sudah 255 insan pers yang dibekali ilmu peternakan. Dukungan PIHC tahun ini bahkan memungkinkan hadirnya jurnalis dari luar Jabodetabek.
Tenaga Ahli Menteri Pertanian, Imam Wahyudi, mengapresiasi semangat para peserta. Menurutnya, keterampilan baru ini diharapkan lahir menjadi unit usaha produktif, baik secara mandiri maupun berkelompok.
"Kita berharap para jurnalis dan mantan jurnalis memiliki bekal entrepreneur untuk mandiri secara ekonomi melalui peternakan ayam, selain tentunya tetap melahirkan karya jurnalistik yang positif dan mengedukasi," ujar Imam.
Pandangan senada disampaikan Kepala BBPKH Cinagara, Dr. Inneke Kusumawaty. Ia menilai pengalaman praktis melihara ayam, mengatur pakan, menjaga kesehatan ternak, hingga menghitung rasio biaya usaha akan memperkaya perspektif jurnalis saat memotret realitas agribisnis nasional.
"Dengan pengalaman langsung ini, informasi dan literasi peternakan yang disampaikan kepada masyarakat nantinya akan terasa lebih mendalam, akurat, dan bermanfaat," kata Inneke.
Related News
Jejak Yagi Forest, Menjaga Hutan Aceh, dan Memikat Pasar Global
Banting Setir BIKE, Dari Bisnis Sepeda ke Tambang
Meta Luncurkan Model AI Baru Canggih, OpenAI Lewat
Omoda 5 Lepas As, Chery Investigasi Besar-besaran, Termasuk Indonesia
Pimpin Transformasi GIAA, ini Rekam Jejak Thomas Oentoro
The Social Reckoning (1): Saat Algoritma Memecah Belah Masyarakat





