Babak Berikutnya Pasar Kripto, Mulai Masuk Fase Repricing
:
0
Head of Digital Asset Innovation Samuel Kripto Indonesia, Muhammad Raditya Adhimukti kala jumpa pers di Media Connect, Jumat (4/9/2026). Foto: Samuel Sekuritas
EmitenNews.com - Pasar aset kripto dinilai tengah memasuki fase repricing usai reli sepanjang Agustus 2026. Setidaknya ada tiga faktor utama yang mempengaruhi hal itu yakni tekanan fiskal AS, meningkatnya akses melalui exchange-traded fund (ETF), serta munculnya token dengan basis ekonomi yang lebih jelas.
Head of Digital Asset Innovation Samuel Kripto Indonesia, Muhammad Raditya Adhimukti memaparkan bahwa defisit fiskal AS untuk tahun 2026 diproyeksikan mencapai USD1,8 triliun, sementara arus masuk bersih Bitcoin ETF pada Agustus 2026 mencapai sekitar USD3,5 miliar.
Bitcoin tercatat bergerak dari sekitar USD62.800 menjadi USD78.600 pada Agustus 2026, dengan return close-to-close sebesar 25,1 persen. Samuel Kripto Indonesia menilai kronologi peristiwa bukan merupakan bukti kausalitas langsung, namun arus dana ETF menjadi konfirmasi bahwa narasi makro telah berubah menjadi permintaan spot yang terukur.
“Reli Agustus menunjukkan bahwa pasar kripto tidak lagi hanya bergerak karena narasi harga. ETF membuat tesis makro berubah menjadi permintaan spot yang bisa diukur, sementara investor mulai membedakan aset berdasarkan fungsi dan kualitas ekonominya,” ujar Raditya di Menara Imperium, Jumat (4/9).
Ia juga menilai, pasar aset digital kini tidak lagi dapat dipandang sebagai satu kelompok investasi yang bergerak dengan karakteristik seragam. Bitcoin misalnya, kini lebih banyak diposisikan sebagai aset dengan narasi monetary scarcity, sedangkan ETH dan SOL erat dengan network beta. Sementara itu, stablecoins dan RWA mulai berkembang sebagai financial rails.
Salah satu yang disoroti Raditya adalah token HYPE yang dinilai mencerminkan economic outpout. Menurutnya, HYPE memiliki hubungan lebih jelas antara aktivitas jaringan dan nilai token. Hyperliquid disebut mengarahkan sebagian besar pendapatan biaya perdagangan bersih untuk pembelian kembali HYPE.
Data yang ia paparkan, per akhir Agustus hingga awal September, HYPE mencatatkan rekor harga tertinggi sepanjang masa atau all-time high di USD86,71. Kapitalisasi pasar beredarnya tercatat sekitar USD18,8 miliar, dengan fully diluted valuation mencapai sekitar USD80,6 miliar. Sementara itu, total buyback HYPE sejak peluncurannya telah mencapai sekitar USD1,3 miliar.
“Ke depan, pasar kripto akan menghadapi sejumlah ujian penting pada September 2026. Samuel Kripto menilai data tenaga kerja AS, dimulainya operasi buyback treasury pada 9 September, rilis PPI dan CPI AS, serta keputusan FOMC pada 15-16 September akan menjadi faktor penting untuk melihat apakah repricing Agustus dapat berlanjut menjadi tren yang lebih kuat,” tutupnya.
Related News
Pemerintah Rilis Sukuk Wakaf SWR007 Imbalan Minimal 6,70%
IPO SWAP UGM Resmi Ditunda Karena Lapkeu?
IHSG Diramal Akan Pulih Kembali, Ini Prasyarat yang Harus Ditembus
Top Losers Sepekan, Sajikan TMPO hingga Emiten Grup Bakrie (VKTR)
Bank Jakarta Raih Corporate Secretary Champion 2026
Intip Top Gainers Sepekan, Ada FORU hingga SINI





