EmitenNews.com - Bank BNI (BBNI) akan menggeber pembelian kembali (buyback) saham. Itu ditunjukkan dengan menyiapkan anggaran senilai Rp1,5 trriliun. Periode buyback akan dilakukan dalam tempo satu tahun.

Tepatnya, sejak 9 Maret 2026 hingga 8 Maret 2027. Tindakan itu, akan dihelat setelah mendapat restu investor dalam rapat umum pemegan saham tahunan pada 9 Maret 2026 mendatang. Perkiraan nilai transaksi buyback tersebut tidak melebihi 10 persen dari jumlah modal ditempatkan dalam perseroan.

Dana buyback dari arus kas bebas (free cash flow) berupa saldo laba belum ditentukan penggunaannya. Perkiraan nilai transaksi buyback termasuk biaya transaksi, biaya penyimpanan, dan commitment fee) sekitar 0,32 persen dari nilai eksekusi buyback, dengan asumsi buyback dilaksanakan secara keseluruhan. 

Tindakan itu, dilatari sepanjang 2025, saham perbankan Indonesia mengalami tekanan terutama dipengaruhi ketidakpastian global akibat risiko geopolitik, dan ancaman perang tarif. Sementara di dalam negeri perbankan nasional menghadapi tantangan likuiditas, dan perlambatan loan demand. 

Itu menyebabkan saham perbankan Indonesia mengalami tekanan lebih dalam dibanding bank-bank kawasan regional. Per 31 Desember 2025, harga saham BNI hanya naik 0,5 persen year-on- year (Yoy). Meski lebih baik dari local peers, namun saham BNI masih tertinggal dibanding bank-bank regional peers.

Walau pasar saham domestik mulai rebound di akhir 2025 seiring optimisme investor asing mulai masuk kembali, namun arus dana asing masuk belum sepenuhnya pulih. Investor masih berhati-hati dalam mengantisipasi dampak ketidakpastian global kembali meningkat di awal 2026, terutama dipengaruhi sentimen, seperti tensi geopolitik, dan ancaman tarif Amerika Serikat (AS). 

Ketidakstabilan geopolitik itu, mendorong perlemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) hingga menyentuh nilai bahkan lebih rendah daripada masa krisis moneter 1998 senilai Rp16.985 per USD. Di tengah ketidakpastian akibat sentimen global, forecast kinerja BNI masih tumbuh positif dengan kinerja fundamental resilient, di mana permodalan BNI masih kuat, kualitas aset terjaga, pertumbuhan kredit imbang semua segmen, dan pertumbuhan dana murah solid didukung transformasi digital, dan jaringan. 

Namun demikian, eskalasi konflik geopolitik, dan perang tarif perdagangan masih berlanjut berpotensi menciptakan tekanan inflasi dari nilai tukar, dan berpotensi menekan indeks harga saham gabungan (IHSG), tanpa terkecuali saham perbankan nasional. Nah, buyback untuk membantu mengurangi tekanan jual di pasar saat indeks sedang berfluktuasi, sekaligus memberi indikasi kepada investor, perusahaan memandang harga saham saat ini tidak mencerminkan fundamental perusahaan.

Perseroan berkeyakinan pelaksanaan buyback tidak akan memberikan dampak negatif yang material terhadap kegiatan usaha. Itu mengingat perseroan memiliki modal, dan cash flow cukup untuk melaksanakan pembiayaan transaksi bersamaan dengan kegiatan usaha perseroan. (*)