EmitenNews.com - Menilai saham bank digital tidak bisa lagi menggunakan kacamata yang sekadar mempertimbangkan valuasi dan prospek masa depan. Investor lebih peduli pada bukti nyata dari apa yang dilakukan perusahaan dalam kinerja keuangannya. Laporan keuangan kuartal pertama 2026 PT Bank Jago Tbk (ARTO) menjadi titik pembuktian yang menarik untuk diamati. 

Alih-alih menghamburkan biaya promosi untuk mengakuisisi nasabah baru, ARTO membuktikan bahwa strategi embedded finance, yaitu model bisnis dengan menanamkan sistem perbankan di dalam ekosistem mitra GoTo dan Bibit, rupanya mulai berbuah hasil yang terukur. Pertanyaannya, seberapa solid kualitas laba dan struktur pendanaan mereka saat ini? 

Laba Bank Jago Tumbuh Berkat Kredit Konsumsi

Pada kuartal I-2026, ARTO berhasil mencetak laba bersih Rp85,77 miliar, naik 42,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, Rp60,27 miliar. Kenaikan laba ini didorong oleh Pendapatan Bunga Bersih atau selisih antara bunga yang didapat bank dari penyaluran kredit dengan bunga yang harus dibayarkan bank kepada nasabah penyimpan dana, yang naik menjadi Rp727,31 miliar.

Dari mana asal pendapatan bunga tersebut? Mayoritas kredit bank Jago rupanya disalurkan ke segmen konsumsi Rp11,89 triliun dan modal kerja Rp11,53 triliun. Hal ini menunjukkan bahwa strategi partnership lending, yaitu menyalurkan pinjaman lewat aplikasi mitra seperti fasilitas GoPay Later sangat efektif. Bank tidak perlu repot mencari nasabah dari nol, melainkan cukup mengubah pengguna setia aplikasi mitra menjadi sumber pendapatan riil.

Berkat GoTo dan Stockbit-Bibit, ARTO Punya Ekosistem Elit

Tantangan utama bank digital biasanya adalah mahalnya biaya untuk merayu nasabah agar mau menabung. Dikenal dengan istilah Cost of Fund atau Biaya Dana. Menariknya, ARTO berhasil menekan biaya ini secara alami.

Karena sistem ARTO tertanam di dalam aplikasi GoTo dan aplikasi investasi Stockbit/Bibit, nasabah lebih banyak menggunakan rekening ARTO untuk transaksi sehari-hari atau sekadar "transit" dana sebelum membeli saham lewat Rekening Dana Nasabah/RDN. Hasilnya, saldo deposito yang beban bunganya mahal bagi bank justru turun dari Rp12,74 triliun di akhir 2025 menjadi Rp12,22 triliun.

Sebaliknya, porsi dana murah atau CASA (Current Account Saving Account), yakni dana berupa giro dan tabungan biasa yang bunganya sangat rendah malah merangkak naik. Giro mencapai Rp5,07 triliun dan tabungan menjadi Rp8,82 triliun. Kini, porsi dana murah ARTO mencapai sekitar 53%. Artinya, ARTO punya banyak modal untuk diputar menjadi kredit tanpa harus "bakar uang" menawarkan promo bunga deposito yang selangit.

Taktik Cerdas Bank Jago Putar Uang Nganggur