EmitenNews.com - Investor harap-harap cemas menyongsong 28 September 2026. Itu hari efektif pemberlakuan batas bawah menjadi Rp1 dari skema awal Rp50. Memang hari Senin, 28 September 2026 itu, tidak otomatis saham dengan level gocap langsung beredar di posisi Rp1.

Namun, secara psikologis, investor akan terganggu kala keran batas bawah dilepas dari Rp50 menjadi Rp1 per helai. Tidak terkecuali investor Goto Group (GOTO). Maklum, jamak diketahui, sudah lama investor ritel GOTO terkunci di level Rp50. Tepatnya, sejak 8 Mei 2026 hingga detik ini, saham GOTO tidak bergeser dari kisaran gocap.

Kalau ditilik lebih saksama, kali pertama saham GOTO mencicipi posisi gocap terjadi pada 21 Juni 2024 sampai 19 Juli 2024. Kala itu, investor tidak begitu reaktif. Beda dengan edisi belakangan terakhir, ribuan investor ritel GOTO terjebak, dan dipaksa bersabar dibarisan antrean. Sayangnya, tidak bisa juga menemukan jalan keluar.

Dalam kebuntuan dan kepanikan itu, investor bukan kedatangan dewa penyelamat. Justru mendapati kabar kurang sedap. Itu setelah Bursa Efek Indoesia menghapus batas harga bawah Rp50 menjadi Rp1. Operator pasar modal nusantara tersebut, memastikan pemberlakukan ketentuan baru itu efektif sejak Senin, 28 September 2026.

Deretan Investor Kakap

Nah, kalau ketentuan itu berlaku efektif, dan saham GOTO pada suatu ketika menyusuri level Rp1, maka investor GOTO yang belum sempat keluar akan mengalami nasib tragis. Merujuk data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 31 Agustus 2026, pemegang saham GOTO di atas 1 persen yang terancam menghadapi goncangan tersebut sebagai berikut.

Yaitu, SVP GT Subco menguasai 7,65 persen atau 91.102.207.128 saham akan menjadi Rp91,1 miliar dari saat ini Rp4,55 triliun. Taobao China Holding Limited menguasai 7,43 persen setara 88.531.124.993 saham tersisa Rp88,53 miliar dari saat ini Rp4,42 triliun. Morgan Stanley and Co International Plc 4,57 persen setara 54.433.645.448 helai alias Rp54,43 miliar dari Rp2,72 triliun.

Namun, berdasar data 23 September 2026, Morgan Stanley telah menguasai 7,0299 persen saham GOTO setara 80,93 miliar lembar atau Rp80,93 miliar dari semula Rp4,05 triliun. Goto Gojek 3,34 persen alias 39.780.078.403 saham atau Rp39,78 miliar dari semula Rp1,98 triliun. UBS AG Hong Kong 2,68 persen alias 31.954.740.264 lembar sebesar Rp31,95 miliar dari Rp1,59 triliun.

Tencent Mobility Limited 2,48 persen alias 29.599.381.207 lembar atau Rp29,59 miliar dari Rp1,47 triliun. Google Asia Pacific 2,48 persen alias 29.582.021.466 lembar setara Rp29,58 miliar dari saat ini Rp1,47 triliun. Peak XV Partners Goto Investment Holdings 2,42 persen atau 28.869.001.349 saham setara Rp28,86 miliar dari saat ini Rp1,44 triliun.

Saham Anak Bangsa 2,26 persen setara 26.888.988.841 lembar selevel Rp26,88 miliar dari saat ini Rp1,34 triliun. Telekomunikasi Selular (Telkomsel) 1,99 persen setara 23.722.133.875 eksemplar alias Rp23,72 miliar dari semula Rp1,18 triliun. Capret 1,98 persen setara 23.589.991.904 lembar menjadi Rp23,58 miliar dari saat ini Rp1,17 triliun.