EmitenNews.com - Jepang sudah setengah abad menjadi mitra dagang dan pengaruhnya sangat besar terhadap ekonomi Indonesia selama ini. Karena itu ekonom Indef Prof Dr Didik J Rachbini berpandangan kerjasama dan hubungan ekonomi perdagangan dengan Jepang bukan hanya harus terus dijaga, tetapi harus ditingkatkan.

Didik menilai Jepang sebagai mitra dagang utama sangat potensial untuk memajukan perdagangan luar negeri Indonesial. "Perdagangan Indonesia dengan Jepang bersifat komplementer, saling melengkapi. Sehingga bersifat win-win, dimana kedua negara mendapat manfaat yang optimal untuk mengembangkan cadangan devisanya masing-masing," ulasnya.

Sementara perdangan dengan mitra dagang lainnya, seperti perdagangan dengan Cina, bersifat substitusi saling menggantikan dan saling menegasi sehingga cendering bersaing saling mematikan dan merugikan yang lemah - dalam hal ini Indonesia. 

"Sifat hubungan dagang dengan China saling bersubstitusi kompetisi pada produk-produk yang sejenis. Indonesia dan Cina memiliki produk-produk ekspor pertanian, pangan dan perkebunan yang sama. Sama dengan Indonesia, Cina juga mengekspor barang industri manufaktur seperti tekstil, elektronik dan lainnya," tandas Didik.
 
Rektor Universitas Paramadina ini menilai hubungan dagang yang saling mensubstitusi seperti ini bermasalah bagi Indonesia karena produk dan industri domestik kalah bersaing karena harganya murah.

Deindustrialisasi dini (premature deindustrialization) juga terjadi karena industri dalam negeri diterpa persaingan dagang yang bersifat substitusi seperti ini. Selain itu, neraca perdagangan sektor manufaktur terus defisit dan juga muncul tekanan pada industri UMKM yang berubah menjadi distributor barang impor Cina.

"Berbeda dangan ekonomi Cina, ekonomi Jepang memang tumbuh rendah tetapi skala ekonominya masih  sangat besar dan raksasa. Ekonomi Japang adalah ekonomi yang besar bersama dengan ekonomi AS, Cina, India, Jerman dan lainnya," tegas dia.

Atas dasar itu Didik berharap dengan kunjungan Presiden Prabowo ke Jepang tim ekonominya harus memaksimalkan kunjungan ini bukan hanya diplomasi sambilan.

Tim ekonomi Indonesia pasca kunjungan harus merancang promosi kerjasama dengan jepang karena sifat yang komplementer dan saling menguntungkan  tersebut. Jepang melakukan impor dari Indonesia energi, batubara, LNG, produk pertanian, perikanan dan sebagainya.  Sedangkan ekspor Jepang ke Indonesia berupa mesin-mesin, barang teknologi tinggi dan investasi iindustri. 

Perdagangan komplementer seperti ini lebih menguntungkan dan bermakna ekonomi karena terjadi penguatan value chain keduanya dimana Indonesia masuk ke dalam rantai pasok global.  Dampaknya, ada transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja industri dan penguatan manufaktur (otomotif, elektronik).(*)