EmitenNews.com - Ultra Jaya (ULTJ) bakal melakukan right issue maksimal Rp16,94 triliun. Itu dengan melepas 7,88 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp2.150. Pengeluaran saham anyar tersebut dibalut dengan nilai nominal Rp50 per helai.

Right issue disodorkan dengan rasio 15.200:11.517. Artinya, setiap pemilik 15.200 saham lawas berhak atas 11.517 hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Setiap 1 HMETD berhak menebus 1 saham baru. Dana hasil right issue, sekitar 86,01 persen untuk pengambilalihan 100 persen dari seluruh modal ditempatkan dan disetor penuh Frisian Flag Indonesia (FFI) atau sejumlah 24.440 lembar senilai Rp14,57 triliun melalui inbreng.

Sisanya dalam bentuk penyetoran tunai akan digunakan oleh perseroan sebagai modal kerja termasuk namun tidak terbatas untuk beban bahan langsung dan upah langsung, beban pemeliharaan dan perbaikan, dan beban listrik. Sabana Prawirawidjaja (SPW) sebagai pemegang saham utama sekaligus pengendali dengan kepemilikan 5,53 miliar helai setara 53,17 persen saham ULTJ akan mengalihkan seluruh hak kepada FrieslandCampina International Holding B.V (FCIH).

Pada aksi itu, Prawirawidjaja Prakarsa (PPP), dengan kepemilikan 2,47 miliar saham alias 23,78 persen berhak 1,87 miliar HMETD, akan mengalihkan 1,14 HMETD kepada Blue Waves Group Ventures Pte Ltd (BWG), lalu 388,14 juta HMETD kepada FCIH, dan 338,83 juta HMETD kepada Bahtera Wiraniaga Internusa (BWI). Samudera Prawirawidjaja (SAP), pemilik 375 juta saham ULTJ akan mengalihkan weluruh HMETD kepada FCIH.

Suhendra Prawirawidjaja (SUP), dengan kepemilikan 157,71 juta lembar, Nila S (NIS) dengan porsi 284,13 juta helai, dan Lili Melati (LIM) dengan porsi 35,63 juta saham ULTJ akan mengalihkan seluruh HMETD kepada FCIH. FCIH, BWG, dan BWI akan mengeksekusi 6,77  miliar HMETD setara 100 persen saham dari modal ditempatkan dan disetor FFI.

Pengambilalihan seluruh saham FFI merupakan suatu peluang yang diharapkan dapat mendukung kapabilitas operasional, dan keuangan perseroan, memperluas penawaran produk, mendukung pertumbuhan di masa depan, memberikan kontribusi terhadap penciptaan nilai jangka panjang bagi perseroan maupun pemegang saham.

Pengambilalihan FFI diharapkan dapat mempertemukan kapabilitas saling melengkapi dalam industri susu Indonesia. Dengan transaksi itu, FCIH selaku induk FFI akan menjadi pengendali baru perseroan. Rasio transaksi ini mencapai 178,24 persen dari ekuitas per 31 Juli 2026, sehingga tergolong transaksi material dan memerlukan persetujuan RUPS.

Adapun, RUPSLB untuk persetujuan transaksi dijadwalkan pada 6 November 2026, dan pemegang saham tidak mengambil hak right Issue berpotensi mengalami dilusi maksimum 43,11 persen. Selain right issue, perseroan juga akan meminta restu perubahan susunan dewan direksi, dan dewan komisaris. Dan, tidak kalah penting persetujuan penggunaan sebagian saldo laba ditahan untuk dibagikan sebagai tambahan dividen tunai final. (*)