BI: Insentif Tarik Masuk Investasi Lebih Efektif Dari Naikkan BI-Rate
:
0
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (Foto: Youtube BI)
EmitenNews.com - Bank Indonesia berkomitmen memperkuat stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi antara lain dengan memperkuat efektivitas implementasi kebijakan moneter untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah dan menjaga inflasi 2026 dan 2027 dalam sasaran 2,5±1%,
"Caranya adalah dengan mengoptimalkan strategi intervensi valuta asing guna memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik," jelas Gubernur BI, Perry Warjiyo, usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan bulan Juli di Jakarta, Rabu (22/7).
Upaya lainnya adalah mengelola struktur suku bunga di pasar uang yang sejalan dengan kebijakan BI-Rate dan suku bunga instrumen operasi moneter pro-market;
menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan dengan memastikan pertumbuhan uang primer lebih dari 10% (double digit) sesuai dengan ekspansi moneter;
Menjawab pertanyaan dalam press conference, Perry menjelaskan pertimbangan BI mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%. Ia mengakui setiap opsi untuk meningkatkan nilai tukar rupiah ada implikasinya. Misalnya jika menaikkan BI-Rate 25 basis poin akan mendorong kenaikan suku bunga di dalam negeri yang berpotensi memicu inflasi.
"Karena itu dalam rapat dibanding menaikkan BI-Rate kami lebih memilih memperluas kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah, sekaligus mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA)," jelasnya.
Upaya menarik arus masuk investasi portofolio asing itu dilakukan dengan kenaikan dan perluasan insentif pengurangan premi untuk investasi portofolio asing berupa: kenaikan insentif bagi Swap Jual Lindung Nilai (Swap Beli Lindung Nilai kepada BI) dari 10% menjadi sebesar 12,5% dan (b) perluasan insentif bagi DNDF Jual Lindung Nilai sebesar 15%;
Kemudian juga pemberian insentif untuk meningkatkan Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra untuk diversifikasi transaksi valas berupa: (a) penambahan premi Swap Beli Lindung Nilai (Swap Jual Lindung Nilai kepada BI) sebesar 10%, dan (b) pengurangan premi DNDF Jual Lindung Nilai sebesar 10%.
Perry yakin meskipun Bank Indonesia tidak menaikkan BI-Rate, pemberian insentif pengganti itu akan menarik masuk portolio investasi asing. "Karena investor asing secara neto imbal hasilnya lebih tinggi dari kenaikan suku bunga 25 basis poin," pungkasnya.(*)
Related News
Rupiah Menguat Usai BI Tahan Suku Bunga
Bank Indonesia Tahan BI-Rate di Level 5,75 Persen
Ini Alasan Wamentan Dipilih Prabowo Jadi Kepala BGN Gantikan Deyang
Tanggapan Presiden Terhadap Mundurnya Kepala BGN Naniek S Deyang
Konflik AS-Iran Memanas, Emas Antam dan Dunia Kompak Naik
Minyak dan Defisit Bawa Yen ke Level Terendah 40 Tahun





