EmitenNews.com - Ketika harga emas dan tembaga global sedang melambung tinggi, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) seharusnya sedang menikmati masa panen raya. Namun, realitas pada Laporan Keuangan AMMN tahun 2025 justru menyajikan anomali yang tajam. Pendapatan dan laba bersih perseroan justru anjlok beruntun tepat di tengah pesta komoditas tersebut. 

Tekanan operasional ini semakin diperparah oleh guncangan pasar, di mana AMMN baru saja didepak dari indeks acuan global MSCI akibat minimnya porsi saham yang beredar di publik. Sentimen ini sukses menyeret harga sahamnya runtuh hingga minus 50,66% sejak awal tahun. 

Apakah penderitaan ganda ini merupakan sinyal bahaya dari fundamental yang retak, atau sekadar biaya transisi yang harus dibayar mahal demi ambisi besar hilirisasi tambang AMMN?

Anomali Volume Tambang di Tengah Harga Tinggi

AMMN mencatatkan penurunan penjualan bersih sebesar 31% secara tahunan (YoY) menjadi USD1,85 miliar. Sementara itu, bottom line (laba bersih atau keuntungan akhir yang menjadi hak pemilik saham) tergerus lebih dalam, yakni anjlok 60% YoY dan hanya mencatat keuntungan di level USD258 juta. Pelemahan finansial ini terjadi justru ketika harga jual rata-rata (ASP) tembaga naik 23% dan emas melonjak 75% di pasar global.

Akar masalah dari anomali ini murni bersifat operasional. Secara volume, produksi tembaga dari tambang mentah anjlok 47% YoY dan emas turun drastis 87% YoY. Hal ini terjadi karena aktivitas penambangan di area Batu Hijau telah memasuki Fase 8. Secara teknis geologis, pada masa awal fase ini, material penutup atau limbah tambang (waste) yang harus digali memang lebih banyak, jarak angkut material menjadi lebih jauh, dan kadar bijih tambang (ore grade) yang diproses cenderung lebih rendah.

Akibatnya, biaya operasional tetap perusahaan harus ditanggung oleh volume produksi yang jauh lebih sedikit. Efek beban ini membuat biaya penambangan per unit naik 10% menjadi USD2,54 per ton.

Baca Juga: Fundamental Bisnis DSSA, Anak Emas Sinarmas yang Dibuang MSCI

Hilirisasi dan Peningkatan Kapasitas Pabrik Pemurnian

Faktor penekan lainnya adalah tertahannya kuota ekspor konsentrat pada awal hingga pertengahan tahun, yang menyebabkan penundaan realisasi uang masuk dari penjualan.