EmitenNews.com - Manuver Prima Globalindo (PPGL) mendivestasi saham Armada Berjaya (JAYA) bukan tanpa sorotan. Operator pasar modal indonesia melisik aksi korporasi tersebut. Ya, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengulik lebih detail penjualan saham JAYA kepada pengendali perseroan. 

Darmawan Suryadi SM, Direktur Utama Prima Globalindo, mengungkap divestasi JAYA menyusul kinerja perseroan dan anak usaha menurun. Itu imbas koreksi harga ocean freight dan jasa pengiriman logistik serta kenaikan biaya operasional, dan biaya keuangan. Dan, opsi divestasi JAYA kepada pemegang saham pengendali sehingga tidak ada perubahan pengendali.

Tindakan divestasi itu, didasari oleh kebutuhan perseroan untuk fokus terhadap bisnis utama perseroan. Proses transaksi dilakukan perseroan mengikuti peraturan OJK nomor 17/POJK.04/2020, dan peraturan OJK nomor 42/POJK.04/2020. Di mana, perseroan menunjuk kantor jasa penilai publik untuk menentukan nilai, dan kewajaran transaksi supaya dilakukan seara arm's length. 

Transaksi akan dituntaskan dalam tempo 30 hari setelah mendapat restu investor dalam rapat umum pemegang saham luar biasa pada 4 Maret 2026. Skema pembayaran transaksi divestasi sebagai berikut. Yaitu, uang muka tahap pertama 40 persen dari nilai transaksi, paling lambat Juli 2026 dibayar dengan transfer tunai. Lalu, 60 persen pelunasan paling telat pada Desember 2026. 

Perseroan telah melakukan mitigasi risiko gagal bayar yaitu saham akan dikembalikan, namun risiko gagal bayarkan diasumsikan tidak akan terjadi. Tersebab, pemegang saham pengendali secara pribadi telah Benjamin transaksi tersebut untuk mengurangi risiko gagal bayar. 

Sekadar informasi, Prima Globalindo mengantongi dana taktis Rp44,6 miliar dari rencana divestasi 45,79 persen saham Armada Berjaya (JAYA). Saham setara 365.597.400 helai itu dilepas dengan harga pelaksanaan Rp122. Saham perseroan dalam Armada Berjaya itu, dilego kepada Darmawan Suryadi SM, dan Jap Astrid Patricia. 

Darmawan Suryadi merupakan direktur utama perseroan, dan Armada Berjaya. Kemudian, Jap Astrid komisaris utama perseroan, dan Armada Berjaya. Transaksi itu, dilandasi kondisi usaha, dan bisnis jasa perseroan saat ini, mengalami penurunan dibanding periode sebelumnya. Itu tersebab harga jasa freight forwarding, dan jasa pengiriman logistik terkoreksi.

Di sisi lain, biaya operasional perseroan mengalami peningkatan. Kondisi tersebut menyebabkan penurunan kinerja keuangan konsolidasian dari koreksi pendapatan jasa, dan laba bersih konsolidasian. Nah, transaksi tersebut diharap ada efisiensi operasional, dan memberi kontribusi positif terhadap kinerja perseroan di masa yang akan datang. 

Dana hasil transaksi itu diharap bisa digunakan sebagai tambahan modal kerja. Dengan begitu, perseroan bisa memberi pelayanan optimal kepada ustomer existin, dan mencari potensi ustomer baru bagi perseroan. Transaksi itu, akan dimintakan izin kepada investor dalam rapat umum pemegang saham luar biasa pada 4 Maret 2026 mendatang. (*)