Dapat Dana Segar, Pergerakan Saham DOID Atraktif
:
0
Sebuah kendaraan alat berat di area pertambangan BUMA Internasional Grup. FOTO - Dok DOID
EmitenNews.com - Buma Internasional Grup (DOID) mendapat dana taktis senilai USD41,05 juta. Itu didapat dari Asiamet Resources Limited (Asiamet), anak usaha perseroan dengan kepemilikan saham 44,15 persen. Di mana, Asiamet menggelontorkan dividen total USD93 juta.
”Transaksi pembagian dividen khusus Asiamet sebesar USD93 juta telah disetujui oleh direksi dan, disahkan pada 9 September 2026,” tegas Dian Paramita, Direktur Buma Internasional Grup.
Sumber dana dividen itu, dari divestasi anak usaha Asiamet yaitu Indokal Limited. Indokal dilepas kepada Norin Mining (Hong Kong) Limited. Asiamet memiliki sepenuhnya Indokal dengan porsi kepemilikan saham 100 persen.
Selain itu, Indokal memiliki 100 persen proyek Kalimantan SSurya Kencana (Proyek KSK). Asiamet merupakan perusahaan publik yang sahamnya tercatat di alternative Investment Market (AIM) Bursa Efek London.
Pemulihan Berlanjut
Sepanjang medio 2026, BUMA Internasional membukukan pertumbuhan EBITDA di tengah penurunan pendapatan, dan biaya nonberulang (one-off costs). Capaian itu, membuktikan kemajuan sepanjang 2025, dan berlanjut hingga kuartal I 2026 terus menunjukkan hasil makin nyata. Kinerja inti bisnis grup terus tumbuh, didukung klien-klien tier-1 utama berjangka panjang (anchor clients), meski sejumlah kontrak lainnya telah berakhir.
Portofolio aktif grup kini beroperasi dengan lebih efisien dan menghasilkan margin EBITDA lebih kuat melalui optimalisasi tenaga kerja secara berkelanjutan, alokasi modal disiplin, dan penguatan strategi pengelolaan aset sehingga berhasil meningkatkan keandalan armada.
Operasional grup di Indonesia mencatat peningkatan terukur pada aspek keandalan, utilisasi, dan produktivitas pada kuartal II 2026. Ketersediaan fisik (physical availability) membaik secara kuartalan (QoQ), dan dibanding kuartal II 2025, dengan lebih dari separuh ketersediaan armada kini berada di tingkat 90 persen atau lebih tinggi.
Waktu henti (downtime) turun 11 persen QoQ, dan 22 persen versus kuartal II 2025, seiring kepatuhan pemeliharaan terencana (scheduled maintenance compliance) hampir berlipat ganda menjadi 46 persen dari periode sama tahun lalu 25 persen. Kualitas pemeliharaan juga membaik, ditandai kemampuan peralatan untuk beroperasi lebih lama sebelum mengalami gangguan (mean time between stops atau MTBS meningkat 22 persen QoQ, dan 20 persen versus 2Q25), serta waktu perbaikan juga makin singkat, dengan mean time to repair (MTTR) turun 18 persen QoQ, dan 6 persen versus kuartal II 2025 menjadi 7,5 jam.
Utilisasi juga membaik, seiring pemeningkatan UA (use of availability) pada kuartal II 2026. Berpadu dengan peningkatan ketersediaan (availability), hal itu mendorong kenaikan jam kerja peralatan per unit 17 persen QoQ, sehingga tingkat operasi (run rate) armada kembali berada pada level secara umum sejalan dengan kuartal II 2025. Peningkatan itu, didukung penurunan waktu nonproduktif. Di mana, jam nonproduktif per unit turun 8 persen QoQ, dan 6 persen dibandingk kuartal II 2025, seiring kondisi musim kemarau mengurangi waktu tunggu akibat hujan, jalan licin (rain/slippery-condition standby), dan penanganan beberapa kendala di area pembuangan, jalan angkut, dan kondisi geologi.
Related News
Rama Indonesia, Pengendali Baru DPUM Bagian Unirama Group
IRSX-iQIYI International Teken MoU Perkuat Konten & Ekosistem Digital
Sisa Dana IPO Rp3 Miliar, Emiten Voucher (DIVA) Parkirkan di BCA
Emiten Hapsoro (BUVA) Kucurkan Pinjaman Tambahan Rp22M ke Anak Usaha
Menengok Taktik Emiten SCNP Penuhi Free Float 15 Persen
BMRI–PSAB Bersiap Cum Dividen 15 September, BBCA–CMRY Cair Pekan Ini!





