Dari Euforia ke Koreksi, IHSG Anjlok di Sesi Kedua
Gedung Bursa Efek Indonesia
EmitenNews.com - Indeks Harga Saham Gabungan mendadak kehilangan arah pada perdagangan Senin, 12 Januari 2025. Setelah sempat melesat dan menembus level psikologis 9.000 pada sesi pertama, indeks justru berbalik tajam dan ditutup di zona merah.
Pada akhir sesi kedua, IHSG ditutup melemah 52 poin atau 0,58 persen ke level 8.884,72. Tekanan jual bahkan sempat menyeret indeks jatuh hingga menyentuh level terendah harian di 8.715.
Aksi ambil untung berlangsung masif sejak awal sesi kedua dan menyapu mayoritas indeks sektoral. Sektor infrastruktur memimpin pelemahan dengan penurunan 2,37 persen, disusul teknologi satu 1,68 persen, energi 1,39 persen, keuangan 1,04 persen, barang konsumer primer 0,58 persen, serta kesehatan 0,35 persen.
Meski demikian, penguatan di sejumlah sektor berhasil menahan laju penurunan IHSG agar tidak semakin dalam. Sektor barang konsumer nonprimer mencatat kenaikan tertinggi sebesar 2,22 persen, diikuti perindustrian 2,20 persen, transportasi dan logistik 0,75 persen, barang baku 0,74 persen, serta properti dan real estate yang menguat 0,49 persen.
Dari sisi aktivitas perdagangan, nilai transaksi tergolong padat mencapai Rp40,10 triliun dengan volume perdagangan 74,4 miliar saham dan frekuensi transaksi sekitar 5,07 juta kali.
Tekanan jual yang meluas tercermin dari data perdagangan sebelum penutupan, di mana sebanyak 535 saham melemah, 359 saham menguat, dan 203 saham stagnan. Pada pukul 14:35 WIB, nilai transaksi tercatat sekitar Rp27,71 triliun.
Di tengah volatilitas tinggi, saham PT Bumi Resources Tbk turut menjadi sorotan setelah mengalami flash crash secara intraday. Saham BUMI sempat merosot cepat hingga menyentuh auto rejection bawah di level Rp394 sebelum akhirnya memantul kembali.
Related News
Flash Crash IHSG: Sempat Anjlok 2,3 Persen, Saham Blue Chip Ini Anteng
IHSG (12/1) Parkir di 8.947 Saat Makan Siang, Saham Emas Kian Ceria
Kemenhub Alokasikan 150 Unit Bus Sekolah Sepanjang 2025
Tren Penurunan Bunga Simpanan Makin Tak Tertahan
Saham Belum jadi Pilihan, Inflow ke Emerging Markets Tertekan
Kontribusi Nilai Tambah Bruto Perusahaan di KEK Rp19,6 Triliun





