EmitenNews.com - Indeks dolar AS terus mengalami penurunan hingga mendekati level 99,5 pada perdagangan hari Senin. Penurunan ini memperpanjang tren pelemahan mata uang Paman Sam tersebut selama lima sesi berturut-turut setelah Jepang mengonfirmasi pelaksanaan operasi pembelian yen secara terkoordinasi bersama Amerika Serikat.

Pelemahan indeks dolar AS ini membuka peluang dan potensi penguatan bagi nilai tukar rupiah. Koreksi mata uang AS biasanya memberikan angin segar bagi pergerakan rupiah, meredakan tekanan arus modal keluar, serta membantu menekan biaya impor bahan baku bagi pasar keuangan dan industri domestik di Indonesia.

Laporan Bapanas mencatat bahwa intervensi pasar yang dilakukan oleh otoritas keuangan Jepang melibatkan dana dalam jumlah yang sangat besar.

"Data Bank Sentral Jepang menunjukkan negara tersebut mungkin telah menghabiskan sebanyak USD 58,97 miliar pada hari Kamis. Otoritas Jepang juga memperingatkan bahwa mereka siap untuk melakukan intervensi terkoordinasi tambahan jika perlu, dan mencatat bahwa mereka tetap berhubungan erat dengan rekan-rekan mereka di AS," tulis laporan Bapanas.

Di kawasan Amerika Serikat, para investor kini mengalihkan perhatian pada rilis serangkaian data pasar tenaga kerja pekan ini. Laporan pekerjaan bulanan yang dijadwalkan meluncur pada hari Jumat menjadi salah satu indikator utama yang paling dinantikan oleh para pelaku pasar.

Sebelumnya, Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan. Walaupun keputusan tersebut diambil, terdapat tiga pejabat yang menyatakan pendapat berbeda (dissenting opinion) dengan peringatan bahwa penundaan kebijakan dapat memicu pengetatan yang lebih agresif di kemudian hari.

Saat ini, para pelaku pasar memperkirakan adanya peluang sebesar 68 persen bagi Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan bulan September mendatang.(*)