Dolar AS Loyo ke 100,5, Naikkan Ekspektasi Fed Pangkas Suku Bunga
:
0
Mata uang dolar AS. (Foto: Dok)
EmitenNews.com - Indeks dolar AS jatuh ke level 100,5 pada Kamis setelah inflasi produsen Amerika Serikat bulan Juni secara tak terduga turun, yang memicu ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve.
Penurunan indeks mata uang Negeri Paman Sam ini terjadi setelah rilis data resmi pada hari Rabu, yang menunjukkan penurunan harga produsen AS untuk pertama kalinya dalam hampir setahun terakhir. Berdasarkan data Trading Economics, tren pelemahan dolar AS didorong oleh penurunan biaya energi, menyusul laporan inflasi konsumen yang juga lebih rendah dari perkiraan pasar pada hari Selasa.
Menurunnya tekanan inflasi di AS langsung mengubah peta proyeksi kebijakan moneter global. Pasar modal merespons cepat dengan memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September mendatang. Probabilitas kenaikan suku bunga acuan tersebut kini turun menjadi 44%, dari yang sebelumnya mencapai 50% hanya dalam waktu sehari.
Situasi ini menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan domestik dan pergerakan rupiah, mengingat pelonggaran kebijakan moneter AS biasanya memicu aliran modal asing kembali masuk ke pasar berkembang (emerging markets) seperti Indonesia.
Meski demikian, pelaku pasar global masih bersikap waspada terhadap dinamika geopolitik. Investor terus memantau eskalasi ketegangan di Timur Tengah setelah militer AS melancarkan serangan tambahan terhadap sejumlah target kelompok yang didukung Iran. Konflik yang kembali memanas ini sempat mendorong harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada minggu ini, sehingga memicu kekhawatiran baru mengenai potensi koreksi inflasi dan arah suku bunga global ke depan.
Kendati tensi di Timur Tengah sempat menegang, sentimen negatif tersebut sedikit teredam oleh pernyataan politik dari Washington. Presiden AS Donald Trump pada hari Rabu menyatakan bahwa pihak Teheran telah memberikan indikasi awal mengenai kesediaan mereka untuk kembali melanjutkan meja negosiasi.
Perkembangan geopolitik dan data ekonomi AS ini diprediksi akan terus memengaruhi volatilitas nilai tukar rupiah dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia dalam beberapa hari ke depan.(*)
Related News
Emas Global Stabil Dekati USD4.060, Harga Antam Turun Tipis
Bank Sentral Korea Naikkan Bunga Setelah 3 Tahun Demi Dongkrak Won
KOSPI Longsor 5%, Saham Chip Korsel Rontok Berjamaah
Harga Emas Dunia Stagnan di USD4.050, Spekulasi Bunga Fed Mereda
Bea Masuk Arab Saudi Naik, Emiten Ekspor Perlu Lakukan ini
Daya Tarik Emas Sebagai Aset Lindung Nilai Mulai Pudar





