EmitenNews.com - Mata uang dolar AS terus menunjukkan penguatan di pasar valuta asing global akibat dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan meningkatnya ekspektasi inflasi di Amerika SSerikat

Hambatan pasokan minyak mentah akibat penutupan Selat Hormuz yang berlanjut memperkuat posisi mata uang Paman Sam tersebut pada perdagangan Senin (12/10).

Kondisi eksternal yang memburuk terjadi setelah pemerintah Iran secara resmi menyatakan sikap geopolitiknya terkait kawasan strategis tersebut.

Pihak Iran mengatakan pada hari Minggu (11/10) bahwa mereka tidak akan membuka kembali Selat Hormuz sampai tuntutan mereka dipenuhi, serta menyebut respons pihak Amerika Serikat tidak memadai.

Pernyataan dari Iran tersebut mempertegas eskalasi pascaserangan yang menargetkan bandara internasional Riyadh di Arab Saudi. Situasi penutupan Selat Hormuz yang meluas berisiko menaikkan harga energi dunia.

Pada Jumat (9/10), harga minyak mentah Brent berjangka ditutup pada level USD104,72 per barel, naik 0,42 persen dari sesi sebelumnya. Sementara itu, survei Universitas Michigan mencatat ekspektasi inflasi satu tahun AS untuk Oktober berada di angka 4,7 persen, atau naik 0,1 poin persentase dibanding bulan sebelumnya.

Di pasar valuta asing Seoul Biggo Finance mencatat pada perdagangan Senin (12/10) pukul 09.47 waktu setempat, nilai tukar won bergerak di level 1.337,45 won per USD1, atau menguat 5,35 won dibanding penutupan sebelumnya..

Nilai tukar won sempat menyentuh level 1.342,5 won per USD1 pada awal perdagangan sebelum akhirnya terdorong turun oleh aksi jual dolar AS oleh para eksportir sektor semikonduktor.

Di pasar global, Indeks Dolar AS mengalami kenaikan 0,13 persen menjadi 102,25. Sebaliknya, kurs euro terhadap mata uang AS turun 0,1 persen menjadi USD1,1198, sedangkan nilai tukar dolar terhadap yen Jepang naik 0,25 persen ke posisi 158,25 yen per USD1.

Gejolak pasar valuta asing dan harga energi global ini berpotensi memberikan dampak tidak langsung bagi ekonomi Indonesia. Lonjakan harga minyak mentah dunia akibat ketegangan di Selat Hormuz berisiko membengkakkan beban impor minyak mentah nasional, mengganggu neraca perdagangan, serta menambah tekanan inflasi domestik dan nilai tukar rupiah terhadap USD.(*)