EmitenNews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan pada perdagangan awal pekan. Setelah sempat mencatatkan penguatan selama empat hari berturut-turut, pergerakan mata uang garuda kini berbalik melemah ke kisaran Rp17.960 per dolar AS pada hari Senin, 20 Juli 2026.

Berdasarkan data terkini pasar spot setelah pukul 10:30 WIB dari Trading Economics, rupiah bergerak fluktuatif namun cenderung tertahan di zona merah akibat kombinasi sentimen global dan tekanan internal.

Penguatan dolar AS dipicu oleh kembali meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia, yang pada gilirannya memicu kekhawatiran global terhadap tingginya inflasi AS serta era suku bunga tinggi yang berkepanjangan.

Di dalam negeri, lonjakan harga minyak mentah dan laporan mengenai kelangkaan bahan bakar di Sumatra menambah kekhawatiran pelaku pasar atas potensi pembengkakan beban fiskal Indonesia. Tekanan terhadap anggaran negara ini terjadi meskipun pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara semester pertama tahun 2026 secara umum dilaporkan tetap berjalan sesuai rencana.

Kendati demikian, pelemahan nilai tukar rupiah kali ini berhasil diredam oleh serangkaian langkah taktis pemerintah untuk mengendalikan inflasi domestik. Langkah tersebut diambil setelah angka inflasi pada Juni 2026 merangkak naik mendekati batas atas kisaran target Bank Indonesia sebesar 1,5 persen hingga 3,5 persen. Pemerintah bergerak cepat melakukan stabilisasi harga pangan di tengah ancaman risiko iklim El Nino.

Di sisi lain, daya tahan ekonomi Indonesia jangka panjang masih ditopang oleh momentum investasi yang solid. Arus modal asing langsung atau foreign direct investment mencatatkan kenaikan paling tajam sejak akhir tahun 2024 pada kuartal kedua tahun ini. Masuknya dana tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki daya tarik yang kuat untuk menarik modal jangka panjang di tengah ketidakpastian global.

Saat ini, para pelaku pasar modal dan investor di tanah air sedang menantikan hasil pertemuan kebijakan moneter Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung akhir pekan ini. Sentimen pasar cenderung berhati-hati setelah Bank Indonesia sebelumnya telah mengambil tindakan agresif dengan menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 100 basis poin pada bulan Mei dan Juni lalu demi menjaga stabilitas moneter nasional.(*)