EmitenNews.com - Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang dan penguatan mata uang yen kembali memicu kekhawatiran pasar keuangan global terkait potensi likuidasi perdagangan carry trade yen. Meski demikian, sejumlah perusahaan sekuritas menilai risiko likuidasi skala besar saat ini masih terbatas.

Berdasarkan data yang dihimpun dari bloomingbit.io, gelombang kehati-hatian pasar dipicu oleh imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun yang melampaui level 3% pada perdagangan intraday 2 September. Angka ini merupakan penembusan pertama di level tersebut sejak 1996.

Pada saat yang sama, kurs dolar AS terhadap yen melorot dari kisaran 160 yen menjadi serendah 158,8 yen. Penguatan yen terdorong oleh ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral Jepang (BOJ) serta laporan pembahasan suku bunga antara otoritas AS dan Jepang.

Pasar memperkirakan peluang sebesar 75% bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 0,25 poin persentase bulan ini menjadi sekitar 1,25%. Namun, lebarnya selisih suku bunga AS-Jepang dan kebijakan fiskal ekspansif Jepang dinilai tetap memberikan insentif bagi investor untuk meminjam dalam yen dan berinvestasi pada aset luar negeri.

Ketidakstabilan jangka pendek sempat melanda pasar saham di Korea Selatan, Jepang, Taiwan, hingga Tiongkok akibat volatilitas tersebut. Kondisi ini turut menjadi perhatian bagi pelaku pasar di Indonesia, mengingat dinamika aset berisiko di kawasan Asia kerap memengaruhi arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) serta nilai tukar rupiah.

Analis KB Securities, Lim Jae-gyun, menjelaskan bahwa kenaikan imbal hasil obligasi 10 tahun Jepang lebih didorong oleh suku bunga riil yang lebih tinggi daripada ekspektasi inflasi.

"Mengingat bahwa imbal hasil obligasi 10 tahun diperdagangkan dalam kisaran 2% hingga 3% bahkan ketika suku bunga kebijakan Jepang berada di sekitar 1% di masa lalu, sulit untuk menggambarkan tingkat imbal hasil jangka panjang saat ini sebagai sesuatu yang luar biasa," ujar Lim Jae-gyun.

Sementara itu, Analis IBK Investment & Securities, Jung Yong-taek, menyoroti dilema kebijakan pemerintah Jepang terkait pengetatan suku bunga dan beban fiskal.

"Yen belum menguat sebanyak yang diharapkan meskipun selisih suku bunga AS-Jepang menyempit. Jika Jepang terus menaikkan suku bunga untuk menekan pelemahan yen, beban bunga pemerintah akan meningkat," kata Jung Yong-taek.

Meskipun volatilitas yen berpotensi memengaruhi pasar ekuitas Asia dalam jangka pendek, konsensus pasar menyimpulkan bahwa potensi pembongkaran carry trade yen secara masif seperti periode sebelumnya masih relatif rendah.(*)