EmitenNews.com - Pasangan mata uang dolar AS terhadap yen diperkirakan diperdagangkan kuat di atas kisaran 158 yen di pasar valuta asing Tokyo pada Selasa (13/10). Penguatan greenback didorong oleh lonjakan harga minyak mentah setelah serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap bandara Riyadh, Arab Saudi, pada akhir pekan lalu.

Penguatan dolar AS secara global ini berpotensi memberikan tekanan depresiasi terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

"Inflasi menyebar ke berbagai sektor yang lebih luas, dan The Fed harus beralih ke kebijakan moneter yang lebih ketat relatif cepat," kata Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, sehari sebelumnya sebagaimana dikutip dari Biggo Finance.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah kelompok Houthi menyerang bandara Riyadh pada 10 dan 11 Oktober, serta menyerang dua kapal tanker minyak. Kondisi tersebut memicu kenaikan harga minyak mentah Brent sebesar 2,3 persen menjadi USD107,17 per barel pada hari sebelumnya, level tertinggi dalam sekitar dua minggu.

Harga minyak saat ini bertahan hampir 45 persen lebih tinggi dibandingkan level sebelum aksi militer AS dan Israel terhadap Iran.

Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi di AS yang merembet pada lonjakan indeks dolar sebesar 0,37 persen ke level 102,58 di pasar New York, level tertinggi sejak April 2025. Dolar-yen turut naik 0,2 persen dan ditutup pada level 158,66. Posisi beli bersih dolar investor meroket dari USD8,4 miliar menjadi sekitar USD36 miliar pada 7 Oktober.

Meski demikian, penguatan dolar AS diprediksi berada dalam rentang terbatas antara 158,20 hingga 159,30 yen karena kehati-hatian pelaku pasar terhadap potensi intervensi mata uang.

"CPI adalah fokus utama minggu ini, dan inflasi kemungkinan akan tetap tinggi," ujar Marc Chandler, kepala ahli strategi pasar di Bannockburn Global Forex.

Sementara itu, ahli strategi pasar di LMAX Group, Joel Kruger, menilai penguatan dolar AS mungkin tidak berlangsung lama mengingat indikator ekonomi cenderung melambat dan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve sudah diantisipasi pasar.

Fokus pasar global malam ini tertuju pada rilis data penjualan rumah September AS, laporan anggaran Departemen Keuangan, World Economic Outlook IMF, serta laporan keuangan kuartalan perbankan besar AS seperti Citigroup, Goldman Sachs, dan JPMorgan Chase. Bagi pasar keuangan Indonesia, pergerakan indeks dolar dan lonjakan harga energi ini menjadi perhatian utama karena berisiko memicu tekanan inflasi impor dan arus modal keluar.(*)