EmitenNews.com - Teror Morgan Stanley Capital International (MSCI) berdampak sangat serius. Pasar modal Indonesia langsung tumbang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambrol 11,57 persen menjadi 5.185. Artinya, dalam sepekan terakhir, IHSG terpangkas 14,91 persen dari pekan sebelumnya 6.093.

Tidak disangkal, perosotan tajam IHSG dipicu pengumuman MSCI Jumat, 16 Oktober 2026. MSCI menyatakan klausul Indonesia berpotensi turun kasta ke Standalone Market atau pasar mandiri. Imbasnya nyata bukan ilusi. Pada pembukaan perdagangan, IHSG menjalani trading halt alias dihentikan selama 30 menit.

Akibat sapuan tsunami MSCI itu, 10 emiten pemilik market cap terbesar langsung ambyar. Market cap Bank BCA (BBCA) Rp632 triliun, terjun bebas 14,7 persen dari akhir September 2026 di level Rp741 triliun. Kemudian, DCI Indonesia (DCII) Rp449 triliun, susut 4,67 persen dari Rp471 triliun. Bank BRI (BBRI) Rp396 triliun, anjlok 15,92 persen dari Rp471 triliun.

Bayan Resources (BYAN) Rp372 triliun, turun tipis 5,34 persen dari Rp393 triliun. Bank Mandiri (BMRI) Rp313 triliun, menukik 15,4 persen dari Rp370 triliun. Menariknya, akhir bulan lalu, Dian Swastatika (DSSA) bercokol di posisi 9 pemilik market cap terbesar lenyap dari peredaran.

Ya, DSSA akhir September 2026 diperkuat market cap Rp206 triliun, saat ini tersisa Rp137 triliun, alias anjlok 33,49 persen. Itu menyusul denda dari Otoritas Jasa Keuangan Rp1,5 triliun. Berikut rincian 10 emiten pemilik market cap terbesar usai MSCI mengumumkan ancaman penurunan klasifikasi pasar modal indonesia menjadi standalone market dari emerging market.

BBCA Rp632 triliun terkoreksi 14,7 persen dari Rp741,4 triliun

DCII Rp449 triliun menyusut 4,67 persen dari Rp471,98 triliun

BBRI Rp396 triliu susut 4,67 persen dari Rp471,13 triliun

BYAN Rp372 triliun turun 5,34 persen dari Rp393,33 triliun

BMRI Rp313 triliun menukik 15,4 persen dari Rp370,52 triliun