Ekonomi AS Terkontraksi, Rupiah Berpeluang Lanjut Menguat
Analis Pasar Uang, Ariston Tjendra, memperkirakan peluang menguatnya rupiah masih terbuka seiring melemahnya sejumlah data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang dirilis semalam.
EmitenNews.com - Pada penutupan perdagangan Rabu (4/6) kemarin, rupiah menguat 0,09 persen atau 14 poin menjadi Rp16.294 per dolar AS. Analis pasar uang, Ariston Tjendra, memperkirakan peluang menguatnya rupiah masih terbuka seiring melemahnya sejumlah data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang dirilis semalam.
"Data Purchasing Managers Index (PMI) sektor jasa AS bulan Mei versi Institute Supply Management (ISM) menunjukkan kontraksi," jelasnya Kamis (5/6/2025).
Menurut Ariston, itu adalah kontraksi pertama dalam 11 bulan. "Dampak negatif kebijakan tarif Trump sudah terasa di sektor jasa yang biasanya lebih solid dibandingkan sektor manufaktur," ucapnya.
Melihat kondisi itu, sentimen pelaku pasar semakin negatif dengan prospek ekonomi AS ke depan. Ini bisa membuka ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan AS.
Pekan ini, data tenaga kerja AS juga menjadi sorotan pasar terutama data di hari Jumat. Data Non-Farm Payrolls AS versi Automatic Data Processing (ADP) bulan Mei yang dirilis semalam, di bawah ekspektasi pasar.
Penambahan pekerjaan hanya sekitar 37.000 dari perkiraan sebanyak 111.000 ribu pekerjaan. "Hasil ini juga bisa memberi tekanan ke dolar AS," ujar Ariston.
Sehingga potensi penguatan rupiah terhadap dolar AS hari ini masih ke arah Rp16.200. Sedangkan potensi resistansi di kisaran Rp16.300 per dolar AS.(*)
Related News
Harga Emas Antam Naik Rp25.000 per Gram
Pakai Coretax, Pelaporan SPT Tahunan Melonjak Tajam
Carry Over Stok Kuat, Pemerintah Pastikan Tak Ada Impor Pangan di 2026
Tak Hanya Sukuk, Bank Indonesia Tancap Gas Rilis SRBI
Desember Industri Manufaktur Melemah, Tapi Masih di Jalur Ekspansi
Jasa Raharja dapat Bos Baru, Muhammad Awaluddin Namanya





