Tak Ajak Mitra Domestik Bahas Proyek Blok Masela, Bos Inpex Kena Tegur
Ilustrasi Blok Masela. Dok. RuangEnergi.
EmitenNews.com - Tak melibatkan mitra domestik dalam pembahasan proyek LNG Blok Masela, Inpex Masela Ltd mendapat peringatan dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Sejumlah partner lokal mengeluhkan karena belum dilibatkan dalam pembahasan proyek. Menkeu meminta agar Project Director Inpex Masela Jarrad Blinco dapat lebih bekerja sama.
Permintaan itu masuk akal. Pasalnya, dalam struktur kepemilikan, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) memegang 20% hak partisipasi dan Petronas sebesar 15%.
"Jarrad, ada keluhan untuk Anda. Dalam proyek ini, Pertamina Hulu Energi memegang 20%, Petronas 15%, tetapi mereka tidak pernah diundang ke rapat Anda. Mohon bekerja sama lebih erat," kata Menkeu Purbaya dalam Rapat Koordinasi Proyek Strategis Nasional Onshore LNG Abadi Masela di Kementerian Keuangan, Selasa (24/2/2026).
Jarrad segera bereaksi menyatakan akan memperbaiki koordinasinya dengan para mitra. "Well noted. Kami memiliki hubungan yang baik dengan mitra kami. Mereka sangat membantu kami, jadi baik, kami bisa melakukannya. Terima kasih."
Lapangan Abadi di Blok Masela adalah lapangan gas laut dalam dengan cadangan gas terbesar di Indonesia. Terletak sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura dengan kedalaman laut 400-800 meter, potensi gas dari Lapangan Abadi ini diperkirakan 6,97 triliun kaki kubik (TCF) gas.
Blok Masela juga direncanakan akan menghasilkan clean LNG melalui penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung program Pemerintah dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung sustainability pada era transisi energi.
Data yang ada menunjukkan, kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/ PSC) Masela yang ditandatangani pada 1998 dan diperpanjang hingga 2055 ini berpotensi menghasilkan 9,5 MMTPA (juta metrik ton per tahun) LNG dan 150 MMSCFD (juta kaki kubik standar per hari) gas pipa. Selain itu, Lapangan Abadi diperkirakan dapat menghasilkan produksi kondensat sebesar 35.000 barel per hari.
Konsep pengembangan lapangan greenfield (lapangan migas baru) yang memiliki kompleksitas tinggi dan risiko besar mencakup pengeboran deepwater, fasilitas subsea, FPSO (Floating Production Storage and Offloading), dan onshore LNG plant akan menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi PHE serta mitra-mitranya untuk merealisasikannya. Selain itu pengembangan lapangan ini juga berpotensi menyerap hingga 10.000 tenaga kerja. ***
Related News
Di Tengah Tantangan Global, Ekonomi Syariah Jadi Kebutuhan Mendesak
Penerimaan Bea dan Cukai Januari 2026 Rp22,6T, Terjadi Penurunan
Strategi Penempatan Dana Rp200 Triliun, Purbaya Sesuaikan dengan BI
APBN Januari Solid, Pendapatan Tumbuh 9,5 Persen, Belanja 25,7 Persen
Trump Ancam Negara Yang Teken ART Tak Main-Main Meski MA Sudah Anulir
Pasokan Aman, Harga Daging, Ayam dan Telur Stabil





