Ekuitas Jumbo, Free Float Secuil, Grup Djarum SUPR Pamit Go Private
:
0
Ilustrasi menara telekomunikasi. FOTO - ISTIMEWA
EmitenNews.com - Solusi Tunas Pratama (SUPR) mantap go private, dan delisting. Menghapus jejak pencatatan saham perseroan dari Bursa Efek Indonesia alias delisting. Tindakan undur diri dari lintasan pasar modal nasional emiten Grup Djarum tersebut bukan tanpa dasar.
Alasan paling mencolok go private dan delisting itu, SUPR gagal memenuhi free float menimum. Padahal, sudah berusaha ekstra untuk memenuhi ketentuan operator pasar modal nasional. Berdasar evaluasi menyeluruh, akhirnya SUPR memutuskan untuk mengajukan go private, dan delisting.
Kalau rencana go private dan delisting disetujui investor, Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), sebagai pemegang saham utama dan pengendali, akan melakukan penawaran untuk membeli saham milik publik melalui penawaran tender sukarela. Harga tender sukarela Rp45 ribu per saham, melejit dari penutupan perdagangan saham SUPR Rp42.295.
Buru Restu Investor
Rencana itu, akan dimintakan persetujuan investor dalam rapat umum pemegang saham luar biasa pada 20 Mei 2026 pukul 11.00 WIB di Bali Room, Hotel Indonesia Kempinski Jakarta. Investor berhak terlibat dalam rapat harus tercatat sebagai pemegang saham alias recording date pada 20 April 2026.
Usai pelaksanaan Rapat Akbar dan mendapat restu investor, SUPR akan mengumumkan valuntary tender offer (VTO) ke publik pada 22 Mei 2026, perkiraan tanggal pernyataan efektif VTO dari OJK pada 11 Juni 2026, perkiraan masa VTO pada 15 Juni-14 Juli 2026, tanggal akhir pembayaran VTO pada 24 Juli 2026, dan perkiraan BEI membatalkan pencatatatn efek pada 10 Maret 2027.
Sepanjang tahun lalu, SUPR mencatat laba bersih Rp1,32 triliun. Surplus 36,08 persen dari episode sama tahun lalu Rp974,31 miliar. Pendapatan Rp1,91 triliun, menanjak dari Rp1,82 triliun. Total beban pokok pendapatan Rp495,92 miliar, bertambah dari Rp473,41 miliar. Laba kotor Rp1,1 triliun, naik tipis dari Rp1,34 triliun.
Ekuitas Jumbo
Beban penjualan dan pemasaran Rp3,38 miliar, bertambah dari Rp3,07 miliar. Beban umum dan administrasi Rp58,5 miliar, berkurang dari Rp84,51 miliar. Laba usaha Rp1,35 triliun, melejit dari Rp1,25 triliun. Pendapatan keuangan Rp447 juta, turun dari Rp661 miliar. Biaya keuangan Rp88,69 miliar, susut dari Rp132,53 miliar.
Jumlah ekuitas Rp8,02 triliun, melejit dari akhir tahun sebelumnya Rp6,69 triliun. Total liabilitas terkumpul Rp2,13 triliun, mengalami penyusutan dari akhir 2024 senilai Rp3,1 triliun. Jumlah aset Rp10,15 triliun, melonjak signifikan dari akhir tahun sebelumnya Rp9,8 triliun.
Related News
Sayap Patah GIAA, Terkubur Defisit, dan Lupa Cara Bagi Dividen
Equity Development Investment (GSMF) Siap Private Placement Rp150M
TGKA Siap Bagikan 70 Persen Laba 2025, Dividend Hunter Auto Merapat?
IHSG Awal Pekan Anjlok 124 Poin, Harga DSSA dan CUAN Tinggal Segini
Pesan DPR Kepada OJK dan SRO Pasar Modal Imbas Kasus MSCI
Dividen Emiten Grup Harita (CITA) Rp1,39T, Cum Date Mulai Jumat Ini!





