EmitenNews.com - Harga emas dunia bertahan di bawah level USD4.350 per ons pada perdagangan Rabu (2/9/2026). Pergerakan ini terjadi setelah harga emas anjlok hampir 3 persen pada sesi sebelumnya akibat aksi lepas aset oleh investor yang merespons prospek kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve).

Kekhawatiran pengetatan moneter tersebut dipicu oleh lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah secara global serta kenaikan tajam harga minyak mentah.

Berdasarkan laporan Trading Economics, yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) kembali melonjak dan membalikkan penurunan yang sempat dipicu oleh pengumuman Menteri Keuangan AS Scott Bessent terkait perluasan program pembelian kembali (buyback) obligasi. Lonjakan biaya energi di tengah ketegangan militer AS dan Iran makin memperkuat ekspektasi inflasi global.

Sikap tegas Ketua Federal Reserve Kevin Warsh yang berjanji memberantas inflasi kian memperkokoh prospek kebijakan moneter agresif. Pelaku pasar saat ini mengkalkulasi peluang kenaikan suku bunga acuan Fed pada pertemuan September 2026 mencapai sekitar 70 persen.

Perhatian pasar saat ini beralih ke rilis laporan ketenagakerjaan swasta ADP serta data nonfarm payrolls untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed,l.

Sementara itu, lonjakan harga minyak mentah dunia terus berlanjut seiring meningkatnya permusuhan antara militer AS dan Iran di Selat Hormuz. Eskalasi geopolitik ini makin memperbesar risiko inflasi global yang berujung pada tingginya imbal hasil obligasi, sehingga menekan daya tarik emas sebagai aset tanpa bunga (non-yielding asset).

Pelemahan harga emas dunia hingga bertahan di bawah USD4.350 per ons ini berpotensi merembet ke pasar domestik Indonesia. Penurunan tajam harga emas acuan global berisiko memicu penyesuaian harga jual serta buyback emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) di dalam negeri, sekaligus memengaruhi keputusan diversifikasi portofolio para investor domestik.(*)